Ini hari pertama kami touch down di Yogyakarta berdua setelah menikah. Kami sepakat untuk tinggal di hotel hanya dua malam. Tidak boleh lebih dari itu, sebab tabungan pasca pernikahan kami sangat ngepas. Ditambah dengan kondisi sang suami yang belum punya pekerjaan.
Kami memutuskan turun lapangan untuk mencari kontrakan rumah yang kami inginkan. Maka setelah sarapan kami bersiap. Kami baca peta yang tempatnya akan kami susuri. Kami tak menentukan spesifikasi khusus. Tidak masalah indekos atau kontrakan, yang terpenting bagi kami adalah calon kediaman yang akan kami huni membuat nyaman.
***
Petualangan dimulai. Kami telusuri jalanan Affandi dengan berjalan kaki. Jalan Affandi berdekatan dengan tempat inap kami. Kami mulai dari jalan raya masuk ke jalan desa, ke jalan kampung lalu ke gang-gang. Tas ransel di punggung kami masing-masing isinya perbekalan yang kami butuhkan selama dalam petualangan.
Kos-kos eksklusif, rumah kontrakan minimalis, kos khusus putri dan pasangan muslim kami lewati hanya dengan pertanyaan dan ketidakcocokan. Jarak tempuh penelusuran sudah lumayan jauh dari hotel, tak satu pun yang membuat jatuh hati. Kami berhenti di sebuah gardu tempat ronda malam.
“Istirahat bentar, Dear. Haus,” pintaku.
“Oke, sudah lumayan juga nih kita jalan. Tapi belum nemu yang sreg,” jawabnya.
Kami beristirahat sejenak sambil membuka beberapa makanan ringan yang tadi kumasukkan ke dalam tas.
“Gimana kalau sampe hari ini belum nemu kontrakannya?” Tanyaku.
“Ya diusahain sampe ketemu lah. Yakin kok bakalan dapet,” dengan santai ia menjawab sambil mengecek beberapa email notifikasi yang masuk di gawainya. Email-email itu tentu bukan dari kantor karena ia belum bekerja. Email yang masuk adalah notifikasi dari sebuah aplikasi pencari kerja yang memberitahukan lowongan pekerjaan yang sedang buka.
Aku terdiam. Dalam hati menggumam, kok bisa dengan santainya seyakin itu. Kuikuti saja dulu kemauannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan jika kita sudah merencanakan. Semua masih dalam kuasa-Nya. Beberapa saat kemudian kami meneruskan perjalanan kami sambil melihat-lihat kiri kanan berharap menemukan rumah yang sedang ditempeli tulisan ‘dikontrakkan. Hubungi xxxx’.
“Mbak, sedang cari kontrakan ya?” tiba-tiba seseorang muncul sambil menghentikan laju motornya dan mematikan mesin.
Kutoleh ke samping kanan tempatnya berhenti. Seorang ibu paruh baya. Kutaksir umurnya sekitar 47-an.
“Iya, Bu,” jawabku seadanya.
“Saya punya. Kebetulan ini mau ke kontrakan. Mau lihat?”
Aku ragu-ragu menyambut tawarannya. Kulirik suamiku berharap menemukan jawaban, tapi ekspresi mukanya datar. Belum kujawab tawaran si ibu, si ibu memotong, “Yuk Mbak, kontrakannya di depan itu. Tak boncengi biar nggak capek”.
Kulirik kedua kalinya ke suamiku berharap jawaban dan izinnya, lalu aku tak tahu kekuatan dari mana yang membuatku menganggukkan ajakan ibu yang tidak kukenal. Aku naik ke motornya. Tak sadar, aku tak membawa gawaiku yang tadi masih dipegang suami. Dari atas motor, kulihat ke belakang sambil kutunjuk arah lokasi sebagai isyarat aku menunggunya di sana. Ia mengangguk.
Motor melaju sangat pelan. Tak sampai lima menit, kami sudah sampai di tujuan. Sang ibu membukakan pintu, lalu kuekor dari belakang. Kulihat ke sekeliling ruangan. Terdapat tiga kamar, satu ruang utama, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah berbentuk minimalis. Sayangnya ventilasi udara tidak terlalu baik. Aku tak menemukan rasa nyaman di situ. “Nanti ya, Bu. Tak tunggu suamiku melihat-lihat dulu,” alasanku.
“Nek mau, saya tinggal di depan rumah ini. Langsung ke rumah saja, ya,” jawab sang ibu.
Aku keluar menuju halamannya yang luas. Hari semakin mendung dan gelap. Kulihat jalanan kosong tak ada orang. Ke mana suamiku? Bukannya tadi jalannya dekat dan mudah? Mau menelepon ingat gawaiku yang masih di tangannya.
Duh, Gusti. Di mana dia? Aku mulai panik karena belum melihat batang hidungnya. Selagi aku di jalan celingak-celinguk menantinya, geledek besar disusul guntur dan guruh bersamaan. Hujan pun turun dan aku semakin ketakutan. []