“Mungkin ingin membaca buku itu saat membelinya, tetapi jika saat ini belum juga membacanya, berarti peranan buku itu adalah mengajarkan bahwa kamu tidak membutuhkannya…“
~Marie Kondo
Waw! Sampai pada paragraf di atas, sontak membuatku berhenti dari kegiatan membaca. Aku mengingat berapa banyak buku-buku yang ada di rakku. Buku yang sudah kubaca, terbaca setengah, atau belum kubaca sama sekali. Satu sisi, aku ingin banyak mengoleksi buku-buku dengan harapan, kalau tidak diri sendiri yang membacanya, siapa tahu nanti anak cucu akan membaca buku-buku itu. Namun sisi lain, rak buku yang memuat buku menumpuk memenuhi isi rumah yang hanya bertipe 36.
Tulisan ini belum seutuhnya kupraktikkan. Aku hanya merangkum dari pemahamanku membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo. Kamu bisa saja setuju, bisa juga tidak. So mari kita selami pelan-pelan, lalu kita simpulkan. Apakah kita butuh menerapkan metode Konmari ini untuk menyimpan buku-buku kita?
Sekilas tentang metode KonMari
Metode KonMari menawarkan seni berbenah yang akan akan mengubah hidup. KonMari diambil dari kombinasi nama depan dan nama belakang pencipta metode ini, yaitu Marie Kondo.
Salah satu barang yang menjadi sasarannya untuk berbenah adalah buku. Buku banyak dimiliki oleh setiap orang. Terlepas dari apakah pemilik buku suk membaca dan mengoleksi, atau hanya suka mengoleksi saja. Berikut cara menyimpan buku ala metode KonMari:
Letakkan semuanya di lantai
Sebelum memutuskan buku-buku mana yang akan disimpan, Marie Kondo hanya menyarankan dua hal bagi orang yang ingin bersih-bersih berbenah, pertama membuang, kedua menaruh kembali barang pada tempatnya.
Di tahap ini akan diajarkan cara pertama dari metode KonMari, yaitu menyortir buku mana yang akan dibuang dan disimpan. Caranya dengan meletakkan semua koleksi buku di lantai. Jika buku-buku yang dimiliki sangat banyak, cara menghemat waktu dengan mengkategorikan buku-buku tersebut pada kategori buku yang sesuai.
Kategorikan dengan yang sesuai
Mengkategorikan buku-buku dengan yang sesuai bisa berangkat dari kategori buku yang umum, semisal buku-buku bacaan untuk hiburan; buku-buku praktis, semacam referensi, buku masakan, dan yang lain; kategori visual berupa koleksi foto, dvd, dan semacamnya; dan majalah.
Begitu buku-buku tertumpuk di lantai, ambil buku tersebut satu per satu dan putuskan hendak menyimpan atau membuang. Kriteria keputusannya adalah apakah buku tersebut mendatangkan kegembiraan atau tidak ketika disentuh.
Marie Kondo menyarankan untuk tidak membaca buku tersebut saat memilah. Sebab membacanya akan mengaburkan penilaian. Yang ada bukannya menghadirkan rasa, malah menimbang berdasarkan keputusan rasional.
Kapan-kapan berarti takkan pernah
Pernahkah kamu berpikir, ah nanti dulu deh. Siapa tahu aku bakal membacanya lagi. Menarik memahami pola pikir Marie, katanya, coba renungkan sejenak, berapa buku favorit yang pernah dibaca lebih dari sekali? Faktanya, sedikit sekali buku milik kita yang dibaca ulang.
Marie Kondo memutuskan, yang namanya kapan-kapan itu tak akan pernah datang. Jika kamu tidak membaca buku itu, maka sekaranglah kesempatan untuk melepaskannya. Berat? Pasti. Tapi hanya dengan menyingkirkannya kita akan tahu seberapa nilainya buku tersebut dalam kehidupan kita.
Lalu buku yang bagaimana yang boleh disimpan?
Buku-buku yang dibaca berulang-ulang termasuk ke dalam buku-buku favorit sepanjang masa bagi kita pribadi. Kemudian, buku-buku yang menyenangkan. Buku-buku yang berkategori seperti itu, kata Marie boleh disimpan.
Yang tersulit adalah buku-buku yang kita sukai, tetapi kadarnya biasa saja. Yang kata-kata dan kalimatnya menggetarkan hati sehingga ada kemungkinan kita akan membaca lagi. Nah, kalau bertemu dengan kategori yang seperti ini, bagaimana cara menyikapinya?
Bersambung~
Aku sudah membaca buku Marie Kondo ini, namun sampai saat belum juga melakukan hal yang dicatat dalam buku itu. Masih mager-mageran.
Mantap kak, sangat bermanfaat sekali
aku juga udah baca buku mba marie, memang ya harus telaten bnget, tapi worth it sekali