Aku cemas. Aku masih mencari dan menunggu dirinya muncul. Sudah beberapa menit berlalu dari geledek dan petir, ia tak kunjung datang. Ke mana gerangan?
***
Dengan pikiran kosong aku melihatnya naik motor bersama ibu yang tak dikenal. Aku tak habis pikir, mengapa dia mau? Aku juga tidak bilang aku mengizinkannya. Ah, mungkin dia membaca dari gestur tubuhku bahwa aku mengiyakannya. Motor melaju ke depan hingga mentok lalu berbelok ke arah kiri. Sampai di situ aku tidak tahu lagi. Sekilas aku hanya mendengar turun di rumah yang halamannya luas.
Entah bagaimana aku sampai di sini. Tak kutemui rumah yang halamannya luas. Tak ada juga istriku. Apa aku salah menyimak? Mana cuaca sangat mendung pertanda akan turun hujan. Awan hitamnya sudah menggumpal di langit. Pikiranku berkecamuk tak berarah.
Kususuri lagi jalannya dari sisi lain. Kulihat sosok perempuan berkerudung merah marun berdiri di sana. Kulangkahkan kaki lebih cepat untuk memastikan diakah yang kucari atau bukan.
“Yank …” tegurku setengah berteriak.
Istriku berlari menghambur. Mukanya pucat pasi dan panik.
“Dari mana aja, Yank? Perasaan dari tempat tadi kita pisah itu nggak jauh sampe ke lokasinya. Kenapa lama?” Tanyanya sambil menghela nafas panjang.
Guruh dan kilat terlihat lagi. Gerimis sudah mulai turun. Kami berlari menepi berteduh di salah satu teras rumah dekat dengan lokasi rumah kontrakan yang akan kami lihat.
“Gimana rumahnya?”
“Ngga kuputuskan. Aku beralasan nungguin kamu. Tapi jadinya begini. Kita cari yang lain saja,” jawabnya sambil tetap memperhatikanku.
“Aku sudah panik duluan, Dear. Gimana kalo aku nggak ketemu kamu. Sekarang sedang hujan. HP-ku sama kamu. Mau minjem HP siapa buat ngubungin kamu? Di sini nggak ada orang,” lanjutnya lagi.
Kutoleh sekilas kiri dan kanan. Lokasi ini sepi. Tidak ada warung di dekatnya. Keadaan sekarang juga tidak bersahabat.
“Oke, kamu tenang dulu, Dear. Sekarang kita sudah ketemu. Kita cari rumah yang lain. Kita tunggu reda sedikit baru jalan lagi,” ajakku menenangkan dirinya.
Hujan masih setia turun membasahi bumi. Suaranya khas. Oh, jika saja sedang di rumah sambil membaca buku di pinggir jendela lalu menyeruput kopi panas. Sementara Petrichor sudah tercium ke hidung kami. Petrichor adalah aroma alami yang keluar saat hujan turun membasahi tanah yang kering. Aroma alami yang khas ini kadang-kadang bisa membangkitkan kenangan-kenangan di masa lalu.
“Jalan aja yuk. Sudah agak mendingan hujannya. Ada payung nih. Sudah lama kan kita nggak hujan-hujanan?” Tawarku pada istriku.
Ia setuju. “Yuk, kan ini momen yang tepat menetralisasi rasa yang tadi bikin nggak karuan,” jawabnya dengan muka yang sengaja dibuat manyun.
Aku hanya tersenyum. Kukeluarkan payung dari tas ranselku. Payung biru yang sudah lama menemaniku saat kuliah, kini masih pada fungsinya menambah saksinya untuk kami berdua. Kami berjalan pelan. Rata-rata jendela rumah tutup karena hujan. Kilat dan guruh-guruh sudah tak terlihat.
Kami berjalan menyusuri genangan air yang mengalir. Daerah ini masih asing bagiku juga istriku. Kami berjalan di arah tak tentu, hanya mengikuti sepanjang jalan menuju jalan raya. Kami melintasi selokan Mataram. Sepi. Tiba-tiba di tengah jalan hujan mengguyur lagi. Tak tanggung-tanggung dengan sangat lebatnya. Kami setengah berlari untuk menepi. Di pinggir jalan kulihat kafe yang sudah buka.
“Berlari di kafe situ aja, Dear. Hujannya lebat. Khawatir di tengah jalan ada guruh dan kilat,” ajakku sambil merangkul bahunya dan mengarah masuk ke kafe.
Kafe itu bernuansa klasik. Kursi-kursi rotan terjejer rapi. Beberapa pajangan kuno tergantung di dinding. Sepeda tua terparkir di pojok ruangan. Seorang barista keluar menghampiri kami. Ia mengulurkan menu camilan dan minuman, nota pesanan serta pulpen.
“Aku coklat hangat saja,” pinta istriku.
Kutulis coklat hangat dan ekspresso. Kutambah tela goreng rasa BBQ. Mantap sekali dengan cuaca yang syahdu. Tiba-tiba aku teringat khayalan tadi ketika kami terdampar berteduh di sebuah teras rumah kosong. []