Skip to content

Diwan Khulaipah

Belajar Sepanjang Hayat

Menu
  • Home
  • Ulumul Qur’an
  • Reviu Buku
  • Catatan
  • Nostalgia
  • Katalog Buku
  • Contact
Menu

Refleksi Hari Santri: Sekali Santri, Tetap Santri

Posted on October 20, 2025 by Yammi Khulaipah

“Menjadi santri bukan sekadar status, tapi jalan hidup untuk terus belajar, beradab, dan berjuang.”

Masa Enam Tahun di Pesantren

Tahun 2009 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupku. Tahun itu, aku dinyatakan lulus dari Madrasah Aliyah Al-Ittifaqiah, sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren yang terletak di Desa Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Enam tahun aku menetap di lingkungan pesantren itu. Waktu yang terasa panjang, penuh warna, dan tak pernah bisa dilupakan. Pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga tempat menempa diri. Di sanalah aku belajar arti kesabaran, kemandirian, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Setiap pagi kami terbiasa bangun sebelum adzan subuh, menyiapkan diri untuk shalat berjamaah, lalu berangkat ke madrasah. Karena aku santri lembaga Tahfidz, waktu soreku dihabiskan menyetorkan hafalan Al-Quran. Malam harinya, kadang mengaji kitab kuning, kadang muhadharah, kadang juga murajaah pelajaran. Rutinitas yang padat itu menjadi bekal kedisiplinan yang melekat hingga kini.

Di pesantren pula aku belajar mengatur emosi dan menghargai perbedaan. Dengan teman-teman yang datang dari berbagai daerah, kami belajar berbagi tempat, makanan, dan cerita hidup. Kami belajar menyesuaikan diri dalam keterbatasan, hidup sederhana tanpa banyak pilihan, namun tetap bahagia dengan apa yang ada. Dan yang paling penting, kami belajar adab sebelum ilmu, sebuah fondasi utama dalam kehidupan seorang santri.

Ketika Hari Santri Ditetapkan

Beberapa tahun setelah aku lulus dan melanjutkan kuliah, kabar menggembirakan datang, ditetapkannya Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober. Aku masih ingat saat kubaca beberapa artikel tentang hari Santri. Aku membaca sejarah di balik penetapan hari tersebut. Rupanya, tanggal itu merujuk pada peristiwa bersejarah tahun 1945, ketika KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad. Seruan jihad ini ditujukan kepada umat Islam, khususnya para santri, untuk melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Resolusi itu bukan sekadar fatwa agama, tetapi juga api semangat perjuangan yang mendorong lahirnya perlawanan rakyat di Surabaya pada 10 November 1945, yang kini kita kenal sebagai Hari Pahlawan. Kemudian, pada 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Sejak saat itu, setiap tahun pesantren-pesantren di seluruh Indonesia menggelar apel, kirab, doa bersama, dan berbagai kegiatan untuk memperingati Hari Santri.
Namun bagiku, Hari Santri bukan hanya soal perayaan. Ia adalah pengingat sejarah dan refleksi diri.

Makna Hari Santri bagi Diriku

Hari Santri menjadi momentum untuk mengingat kembali masa-masa itu.  Saat kitab kuning menjadi teman setiap malam. Saat ngobrol ngalor ngidul dengan sahabat atau Ayuk angkat. Aku teringat betapa kerasnya perjuangan para kiai dan ustaz membimbing kami agar tidak hanya pandai membaca teks, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan.

Di balik segala kesederhanaan, kehidupan pesantren mengajarkan banyak nilai yang masih relevan hingga kini. Santri tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga diajarkan beradab dalam mencari ilmu, menghormati guru, dan menjadikan akhlaq sebagai pondasi utama.

Bagi seorang santri, menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban, tapi juga ibadah. Hidup sederhana, menjaga niat yang lurus, dan mengabdi kepada masyarakat adalah ciri khas santri sejati. Nilai-nilai itu yang berusaha terus aku bawa ke dunia luar setelah lulus.

Kini, setiap kali melihat para santri berjalan menuju madrasah dengan wajah penuh semangat, ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan. Aku seperti melihat diriku sendiri bertahun-tahun lalu.
Hari Santri membuatku kembali merenungi perjalanan dari pondok pesantren sederhana di Indralaya hingga ke dunia yang lebih luas.

Menjaga Jiwa Santri di Tengah Dunia Modern

Meski kini aku tidak lagi hidup di pesantren, jiwa santri itu tidak pernah pergi. Dunia di luar pondok memang jauh lebih kompleks. Ada tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan derasnya arus informasi yang kadang membuat hati lengah. Namun, di sinilah letak jihad nilai-nilai kesantrian diuji.

Santri sejati bukan diukur dari tempat ia tinggal, tetapi dari akhlak dan adab yang melekat di dalam dirinya. Rendah hati, sabar, jujur, sopan santun, dan disiplin dalam ibadah merupakan warisan pesantren yang harus terus dijaga.

Menjadi alumni santri berarti membawa nama baik guru dan pesantren ke mana pun diri ini melangkah. Santri harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tidak kehilangan akar spiritualnya. Ia boleh bekerja di kantor modern, kuliah di universitas ternama, bahkan aktif di dunia digital, asalkan nilai-nilai keislaman dan kesantrian tetap menjadi kompas dalam setiap langkah.

Ngaji yang Tak Pernah Usai

Bagi santri, ngaji tidak pernah berhenti. Meski kini aku tidak lagi duduk bersila di serambi musholla setiap malam, atau di bawah pohon nangka tempat nderes kesayangan, tapi semangat belajar itu tetap menyala. Ngaji bisa berarti banyak hal: membaca Al-Qur’an, mendalami hadis, mengkaji kitab, atau bahkan belajar dari kehidupan itu sendiri.

Aku percaya, menuntut ilmu tidak punya batas waktu. Justru semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar betapa sedikitnya yang kita tahu. Itulah sikap santri sejati, rendah hati dalam ilmu dan terus berusaha memperbaiki diri.

Hingga kini, aku masih berusaha menjaga rutinitas mengaji, baik melalui kajian daring, membaca kitab tafsir, maupun mengikuti majelis ilmu di sekitar tempat tinggal.
Bagiku, itu cara sederhana untuk tetap terhubung dengan akar kesantrian yang dulu membentukku.

Santri dan Kontribusinya untuk Negeri

Sejarah membuktikan, santri memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga sekarang, santri selalu hadir dalam setiap fase pembangunan negeri ini. Mereka bukan hanya menjadi penghafal doa atau penulis kitab, tetapi juga guru, dokter, pengusaha, jurnalis, aktivis sosial, hingga pejabat publik yang membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat.

Di era modern ini, tantangan santri justru semakin besar. Dunia digital menuntut kecepatan dan kreativitas, tapi juga membawa risiko penyimpangan nilai. Karena itu, santri masa kini harus melek teknologi tanpa kehilangan adab, mampu berdakwah dengan cara yang santun dan relevan.

Menjadi santri hari ini berarti menjadi penjaga moral di tengah derasnya perubahan zaman.

Penutup: Sekali Santri, Tetap Santri

Hari Santri setiap 22 Oktober bukan sekadar tanggal peringatan, tapi cermin untuk mengenang perjalanan dan memperbarui niat. Bahwa dulu kita pernah menjadi santri, dan semestinya nilai-nilai itu tetap hidup di dalam diri, meski kini kita berprofesi sebagai apa pun. Satu hal yang masih kupertahankan hingga hari ini adalah semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Karena hidup sejatinya adalah proses panjang untuk terus belajar. Santri itu bukan hanya tentang tinggal di pondok. Santri adalah mereka yang menjadikan ilmu dan adab sebagai cahaya hidupnya. Dan selama semangat itu masih menyala dalam dada, maka aku percaya: sekali santri, tetap santri.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Refleksi Hari Santri: Sekali Santri, Tetap Santri
  • Hadiah Manis dari Waktu yang Tepat
  • 5 Fakta Unik Jadi Ibu Rumah Tangga yang Doyan Nulis
  • Millennial Teachers for Gen Z
  • Bukan Sekadar Halaman ABY Bagian II

October 2025
MTWTFSS
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
« Sep    
© 2026 Diwan Khulaipah | Powered by Superbs Personal Blog theme