“Bi, kalau kita naik mobil pribadi, rasanya liburan ke Solo kurang greget, ya. Daya tarik Solo itu, ya, naik KRL.”
Suatu kali aku pernah bilang kalimat itu ke suamiku. Bukan tanpa alasan. Destinasi liburan di luar kota Jogja terdekat, yang bisa dijangkau dalam waktu singkat, aksesnya mudah, pilihannya banyak, dan ramah di kantong, ya, mana lagi kalau bukan kota Solo.
Kamu mungkin ngga sepenuhnya setuju dengan pendapatku. Bisa jadi kamu merasa mobil pribadi lebih nyaman, lebih bebas, atau lebih praktis. Tapi bagi aku yang suka banget liburan ke Solo versi irit biaya, naik KRL dari Jogja itu menggigit banget. Membayangkannya saja sudah ngga sabar menanti hari liburan. Apalagi saat menjalaninya. Hm, mudah dan menyenangkan sekali kan?
Dulu, KRL hanyalah alat transportasi rutin. Ia mengantarkanku pulang-pergi dari Klaten ke Jogja, menjalani hari-hari biasa dengan ritme yang sama. Setelah punya keluarga kecil yang hobi melancong dan main-main ke kota Solo, makna KRL bergeser menjadi seru. Ia punya magnet dan daya tariknya sendiri untuk menjadi pilihan moda transportasi. KRL ini pula yang mengantarkan kami datang ke kota ini berkali-kali. Apa alasannya?
Biaya Ramah di Kantong
Daya tarik pertama dari KRL Jogja-Solo tentu karena biayanya ramah di kantong. Sejak pertama kali aku tau dan nyobain transportasi ini, KRL masih familiar disebut Prameks. Harga tiket dulu dan sekarang juga masih sama. Aku cukup ngeluarin biaya sebesar Rp. 8.000,- udah bisa menjelajah kota Solo dan sekitarnya. Harga tiketnya sangat terjangkau dan tidak memberatkan saku mahasiswa perantauan sepertiku. Setelah berkeluarga pun, aku cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp. 32.000,-. Tinggal duduk manis saja di dalam gerbong kereta. Tiba-tiba… Taraaa , sudah sampai kota Solo.
Praktis, Bebas dari Macetnya Jalan
Dengan harga yang ramah di kantong, apakah berarti pelayanan kereta menjadi abal-abal? Oh, tidak. Pengalaman kedua naik KRL, aku kepincut pada kepraktisannya. Jadwal KRL yang cukup sering pula membuat kami ngga perlu terburu-buru. Kalau pun ketinggalan satu jadwal, masih ada kereta berikutnya. Ini penting, ya, apalagi saat bepergian bersama anak. Ritme perjalanan jadi lebih santai dan minim drama.
Anyway, ngga menutup kemungkinan juga lah, ya, kamu akan menemukan kemacetan justru di dalam stasiun. Hah? Kok bisa? Ya, bisa. Sebab peminat transportasi satu ini banyak sekali. Di akhir pekan biasanya, kita akan berdesak-desakan berburu tempat duduk dengan penumpang lain. Herannya, selama pengalaman memakai transportasi ini, aku ngga melihat orang-orang yang sikut sana sikut sini. Memang betul kita saling berebut kursi, tapi kalau ngga kebagian, ya, sudah. Dengan sangat legowo dan senang hati kita akan berdiri.
Ah, iya. Pembelian tiket sangat mudah. Bagi yang sering bepergian, boleh saja menggunakan kartu khusus yang bisa di top up kapan pun. Keluar masuk stasiun tinggal nge-tap kartu tanpa ribet. Bisa juga lewat aplikasi di dalam HP. Di depan portal pintu masuk, kita scan barcode. Barcode akan muncul saat kita berhasil membeli tiket online. Saat keluar di pintu portal kedatangan di stasiun tujuan, kita tap kembali barcode khusus keluar, lalu palang pintu akan terbuka.

Nyaman untuk Semua Kalangan
Pengalamanku membawa anak-anak menggunakan transportasi ini relatif aman. Jika anak-anak yang dibawa masih bayi atau balita, maka akan disediakan kursi prioritas. Kursi prioritas diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu yang membawa balita, dan lansia. Selain itu, penumpang lain disediakan tempat duduk sepanjang gerbong. Hanya saja, karena peminat KRL ini banyak, yang berdiri pun tak kalah banyaknya.
Turun di Lokasi Strategis
Di Solo terdapat empat stasiun; stasiun Purwosari, stasiun Solo Balapan, stasiun Solo Jebres, dan stasiun Palur. Dengan empat stasiun itu, kita bisa menyesuaikan keperluan dan kebutuhan kita, sehingga kita bisa turun di stasiun terdekat dari lokasi tujuan.
Biasanya kami melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum atau berjalan kaki. Banyak destinasi wisata yang lokasinya saling berdekatan. Dari Keraton Surakarta, Pasa Gede, hingga berburu kuliner. Tak jarang, kami menggunakan transportasi online. Biaya transportasi online di Solo relatif lebih murah ketimbang di Jogja.
Selaras dengan Karakter Solo
Solo dikenal sederhana, hangat, dan tidak tergesa-gesa. Hiruk pikuknya berbeda dengan di Jogja. Sementara KRL, seolah merepresentasikan nilai-nilai itu. Ia ngga mewah tapi fungsional. Ngga juga cepat banget, tapi menenangkan. Perjalanan dengan KRL seperti perkenalan awal dengan jiwa kota Solo.
Ala kulli hal, adanya KRL Jogja-Solo, sangat memudahkan para pelancong berpindah tempat. Dalam perjalanan kita banyak belajar bahkan sejak naik KRL. Di stasiun anak-anak belajar menunggu, berbagi ruang, pun menghargai proses. Naik KRL mengajarkan lebih ramah lingkungan. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi mungkin langkah kecil, tapi berarti. Rasanya menyenangkan bisa berlibur sambil tetap merasa baik pada lingkungan. Hehe..
Jadi, kalau kamu bertanya kenapa liburan ke Solo dari Jogja lebih seru naik KRL? Jawabanku sederhana, karena daya tarik KRL sendiri. Ia menghadiahi perjalanan yang sarat makna. Bukan hanya sekedar menawarkan destinasi-destinasi wisata yang ada di kota Solo.
