“Buku adalah guru yang membuatmu mengerti, bahwa belajar tidak harus bising. Menjadi pembelajar tidak harus bertengkar dan saling menjatuhkan. Menjadi pembelajar adalah soal merenungi apa-apa saja yang sudah kita lakukan dan harus kita lakukan untuk hidup dan kehidupan yang lebih baik.”
~Ayah Malik, halaman 133
Betapa aku dibuat jatuh hati dengan penulis buku satu ini, padahal sebelum-sebelumnya aku tak suka. Bermula aku mengenal nama Boy Candra saat masih kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Teman satu indekosku maniak dengan kata-kata motivasinya yang berseliweran di Instagram. Waktu itu aku sempat kepo. Tapi kenapa, kok, begitu baca-baca aku kurang suka, rasanya terkesan roman picisan.
Hari-hari ini, tulisan-tulisan Boy Candra terngiang lagi. Maka ketika diskon besar di tanggal titik bulan kembar pada sebuah marketplace, aku menemukan buku yang ditulis Boy Candra berjudul Malik dan Elsa. Blurb-nya terlihat kocak. Segera saja kumasukkan ke dalam
keranjang dua buku itu sekaligus.

Tentang Boy Candra
Penulisnya bernama Boy Candra, lahir 21 November 1989 di Parit, Malalak Selatan, Agam, Sumatera Barat. Dilansir dari Wikipedia, ia menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Pasaman Barat. Kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Negeri Padang.
Novel perdana yang ditulisnya berjudul Origami Hati. Kini, lebih kurang 16 judul novel telah diterbitkan. Dua judul di antara novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Selain itu, Boy Candra juga menulis puisi dan menerbitkam kumpulan-kumpulan cerpen.
Hubungan komedi romantis dalam novel Malik dan Elsa
Malik dan Elsa 2 merupakan buku lanjutan dari buku sebelumnya dengan judul yang sama. Buku ini bercerita tentang kehidupan mereka berdua. Bagi yang sudah pernah membaca bagian awal, adanya kelanjutan dari buku itu tentu hal yang ditunggu-tunggu.
Adalah Malik, seorang mahasiswa di universitas yang sama dengan Elsa. Pertemuan mereka diceritakan di buku pertama. Malik hanya mempunyai ayah, yang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi kerap diolok oleh para tetangga akibat kemiskinan mereka. Sementara ibunya Malik sudah meninggal dunia.
Malik tumbuh menjadi pemuda pekerja keras. Demi memenuhi kebutuhannya, ia rela kuliah sambil bekerja. Selain itu, Malik seorang yang baik hati. Lelucon yang dilontarkan dari mulutnya membuat Elsa senang dan tertawa. Hal itu pula yang membuat Elsa nyaman berada di samping Malik. Meskipun dengan kesederhanannya, Malik dapat membuat Elsa bahagia.
Elsa, si perhatian penuh kasih sayang
Adapun tokoh Elsa digambarkan sebagai sosok pemudi yang cerdas, lemah lembut, penuh perhatian. Dengan pendiriannya, Elsa mau saja berteman dengan Malik meskipun kesan pertamanya bagiku berasa ‘dikadalin’. Kepercayaan diri Malik lah yang membuat Elsa terus berada di sisi Malik, walaupun pada akhirnya tercipta konflik juga di antara mereka berdua.
Tak kurang motivasi
Amanat yang ingin disampaikan dalam novel ini banyak sekali. Penulis dengan sangat apik mengemas amanat dalam sebuah dialog. Baik itu dialog antara bapak ke anak, seorang sahabat ke sahabatnya, seorang abang ke adiknya, atau dialog antara Malik dan Elsa itu sendiri.
Misalnya pada halaman 126, Bang Ali, seseorang yang sudah dianggap kakaknya ini bilang, “... Kunci sukses itu ada tiga: kerja keras, berbakti pada oranh tua, dan berdoa. Kalau semua sudah dilakukan, tinggal menunggu Tuhan mengalirkan rezeki.”
Dengan pilihan kata dan bahasa yang sederhana khas percakapan kita sehari-hari, motivasi dan kata-kata hikmah yang disampaikan mengena ke dalam hati.
Berlatar belakang kota Padang yang membuat penasaran
Kali pertama aku membaca buku ini, aku dibuat penasaran dengan setting tempat yang diceritakan. Saking penasarannya, kucari nama-nama tempat, universitas, berikut nama-nama jalan yang disebutkan itu di dalam Google Map. And it’s true, ada! Bahkan foto-foto membuatku jatuh hati pula pada Padang. Cara penulis melukiskan kota Padang dengan keindahan laut dan pantainya keren sekali.
Demikian, untuk kamu yang butuh bacaan ringan namun sarat makna, buku ini bisa masuk daftar bacaan kamu. Selamat membaca!
