“Tak usah kau ambil beasiswa ke India, tu. Mau bagaimana anak istrimu kalau kau jadi pergi. Dua tahun bukan waktu yang sebentar,” ceramah ibu pada Ari.
Ari terdiam setengah merajuk. Perjuangan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah strata duanya berasa sia-sia. Padahal tinggal sedikit lagi, mimpi Ari tercapai. Segala sesuatu yang dibutuhkan sudah disiapkan. Ari hanya ingin meminta restu dan doa orang tua untuk berangkat.
Ari adalah seorang ayah dari dua orang putra yang masih kecil-kecil. Mimpinya untuk kuliah lagi terpatri sejak sebelum berumah tangga. Apalah daya di tengah kondisi sebagai kepala keluarga, Ari dituntut untuk memenuhi kebutuhan dan nafkah. Meskipun begitu, Ari menyempatkan diri menggali informasi mengenai beasiswa yang relevan dengan keadaannya sekarang.
“Mi, Insya Allah Mami sanggup berpisah sementara, enam bulan awal saja. Ini bukan tentang hanya aku. Tapi tentang bagaimana masa depan kita ke depan,” Ari menegosiasi istrinya.
Sang istri tahu betapa besar keinginan suaminya untuk menerima beasiswa itu. Melihat perjuangan suaminya yang pantang menyerah mengejar beasiswa, ia tidak tega untuk tidak mengizinkan. “Toh, enam bulan ini saja. Biarlah urusan rumah dan anak-anak dipikir nanti,” hiburnya dalam hati.
“Abi akan cari cara supaya Mami dan anak-anak bisa menemani Abi di sana. Untuk sementara, Mami di sini menemani Kakak sampai selesai sekolah,” jelas Ari.
Ari masih mempertimbangkan baik dan buruk keputusannya. Namun, ketidaksetujuan ibu membuat hati Ari kebas. Sirna sudah semangat pergi ke Nalanda, bahkan terbersit di kepala Ari untuk tidak melanjutkan kuliah lagi.
Ketika Ari dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa di universitas Nalanda, universitas tua yang berada di daerah Rajgir, India, Ari mengerti istrinya akan sulit mengizinkan. Tetapi Ari bisa tahu, jauh di dalam lubuk hati istrinya ia akan memberi restu. Karenanya Ari berani mengutarakan niatnya.
Seperti menanti orang dahulu, mengejar orang kemudian, semua yang dilakukannya demi mendapatkan beasiswa sia-sia. Ari memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa itu. Selain karena ibu yang belum begitu memberi restu, pihak yang memberikan beasiswa meminta secepatnya terbang ke Nalanda.
Hari-hari Ari dijalaninya dengan sangat biasa, tak seantusias seperti sebelum-sebelumnya. Bekerja jika waktunya bekerja, bermain bersama anak-anak jika waktunya menemani anak-anak. Ari pun tak ambil pusing kalau rumah bak kapal pecah.
***
Waktu demi waktu berlalu. Diam-diam Ari masih berusaha mencari informasi program beasiswa. Ari menemukan informasi pengumuman pembukaan pendaftaran beasiswa Aspirasi Kominfo di Instagram. Beasiswa itu diperuntukkan bagi ASN/Anggota TNI/ POLRI dan masyarakat umum atau profesional yang bekerja pada bidang komunikasi dan teknologi informasi.
Ari mencoba peruntungannya. Ia melengkapi syarat-syarat administrasi berupa surat rekomendasi, sertifikat TOEFL, rencana studi, serta sejumlah persyaratan-persyaratan lain yang dibutuhkan.
“Selamat pagi, Pak. Saya Ari, mahasiswa bimbingan Bapak di jurusan sastra. Saya sedang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan studi S2. Untuk itu, bisakah saya meminta surat rekomendasi Bapak?”
“Saya senang sekali mendengarnya. Hanya saja mohon maaf, tahun ini saya sudah purna tugas. Apa masih diperbolehkan?”
Ari berpikir keras. Persyaratan-persyaratan lain sudah selesai, tinggal menunggu dua surat rekomendasi dari pimpinan tempat bekerja dan dosen pembimbing semasa kuliah di strata satu. Pendaftaran beasiswa Aspirasi tinggal dua hari, Ari masih saja mengusahakan apa yang menjadi syarat-syarat administrasi. Ari berusaha keras sampai ia tahu batas kemampuannya. Kalaupun beasiswa itu bukan rezekinya, setidaknya Ari sudah berusaha tanpa menyerah.
***
Hari semakin petang. Anak-anak menagih Ari untuk bermain di luar. Pagi tadi, Ari janji mengajak anak-anak ke kafe favorit mereka. Sebuah kafe dengan menu makanan yang sangat cocok di lidah dengan harga ramah di kantong. Nilai plusnya, kafe itu punya playground. Kalau sudah datang ke sana, anak-anak sulit sekali diajak pulang.
Kafe masih sepi. Ari mengajak duduk di kursi berbentuk sofa panjang nan empuk di pojok ruangan. Anak-anak sudah tak sabar ingin menyerbu playground. Dari arah tempat keluarga Ari duduk, playground berada di depan mereka. Ketika anak-anak bermain, sebuah notifikasi email masuk. Ari bergegas mengecek ponsel.

“Mi, Alhamdulillah Abi lulus psikotes. Ini sedang diminta konfirmasi tes wawancara. Besok bisa kah?”
“Besok Mami masih ada kuliah pagi, Bi. Jam berapa jadwal tesnya?” Tanya Mami balik.
“Sepertinya dijadwalkan pagi hari. Kalau begitu, Adek ikut Mami ke kampus, ya. Habis nganterin Kakak ke sekolah, langsung antar ke kampus Mami, ya,” ucap Ari.
“Oke lah kalau begitu untuk besok hari tak apa. Kebetulan jadwal mengajarnya hanya dua jam,” balas istri Ari.
Ari lega. Berbinar-binar mata Ari membaca email itu sekali lagi. Ari mengingat perjuangan mendapatkan beasiswa itu dari masa ke masa. Ari tahu, ia belum boleh berbangga diri karena belum tentu ia resmi menjadi awardee. Namun, dari tiga ratusan orang yang lulus seleksi administrasi, kurang dari enam puluh saja yang lulus ke tahap wawancara.
***
Ari sudah deg-degan semenjak bangun tidur. Ia menerka-nerka apakah harinya akan berjalan mulus atau tidak. Semua yang akan ditanyakan di dalam wawancara sudah ia pelajari dari kisi-kisi pertanyaan wawancara Awardee tahun sebelumnya.
“Saudara, dilihat dari CV Saudara, kuliah Anda sebelumnya tidak linear sama sekali dengan jurusan yang akan diambil di S2. Apa motivasi Anda untuk mendapatkan beasiswa ini?”
Singkat, padat dan jelas, Ari menjawab pertanyaan Bapak yang mewawancarai. Ia tahu betul pertanyaan itu akan ditanyakan. Karenanya, ia sudah menyiapkan jawaban yang tepat menurutnya.
“Apa kontribusi Anda setelah lulus?”
Ari menjawab pertanyaan dengan mantap. Ia sangat akrab dan familiar dengan istilah komunikasi dan teknologi. Pengalamannya semenjak menikah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidangnya. Maka dari itu, Ari ingin mendalami ilmu-ilmu yang relevan dengan harapan akan berguna bagi karirnya ke depan.
Nun jauh di sana, di lain tempat istri Ari tak hentinya merapal doa. Berharap suaminya menjadi salah satu bagian dari Awardee. Ia sudah lama menyaksikan pengorbanan suami, baik berbentuk uang, tenaga bahkan pikiran untuk merebut beasiswa. Hak merebut beasiswa bagi setiap orang adalah sama. Tak peduli statusnya apakah masih frash graduate, suami, ayah, dan sebagainya. Jika hayat masih di kandung badan, semangat belajar wajib diukir dan diperjuangkan.

***
Pengumuman Penerima Beasiswa S2 Aspirasi Kementerian Kominfo
Kepada Yth.
Rekan-rekan Penerima Beasiswa S2 Dalam Negeri
Kementerian Kominfo
Panitia Seleksi Beasiswa S2 Dalam Negeri Kementerian Komunikasi dan Informatika mengucapkan terima kasih kepada Saudara/i atas tingginya minat dan partisipasi pada Program Beasiswa S2 Dalam Negeri Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bersama ini kami umumkan nama-nama Penerima Beasiswa pada Program Beasiswa S2 Aspirasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, (Daftar Nama Terlampir).
Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
____________
Salam,
Tim Pengembangan SDM
