Malam ini keputusannya. Aku paham sekali dengan penggalan kalimat ‘yang abadi tinggallah tulisan’. Maka sewajarnya aku ingin meninggalkan jejak digital sarat makna tanpa lupa mengontrol jari untuk tidak berkomentar di lapak orang dengan yang bukan-bukan.
“Zaman mak ini ari mesti pinter-pinter nyaring berita, mesti pandai-pandai ngerem jari,” ucapku pada diri sendiri.
Kubuka lagi pengumuman open recruitment di media sosial. Masih menimbang-nimbang cak iyo cak idak.
“Nah! mak mano pulo nak maju nulis ini. Melok sikok komunitas nulis selalu berenti tengah jalan. Cak iyo nian di awal-awal abis itu melempem,” otak kiri dan kananku sudah perang.
Gubraak! Ah, aku semakin gugup tak keruan. Antara ingin mencoba lagi berlatih menulis dan merobohkan mental block atau kubuang saja mimpi-mimpi itu ke hutan lalu ke pantai. Padahal sejak beberapa hari yang lalu aku sudah memastikan suamiku mengaktifkan subdomain-ku.
“Masa iya aku ngga jadi ikut event ini?” Batinku.
Kasihan sekali suamiku, sedangkan wajahnya sumringah betul melihatku waktu itu saat mengutarakan dengan semangat untuk menulis -lagi.
Oke, aku memutuskan maju pantang mundur. Di salah satu syarat dan ketentuannya, aku harus mengunggah surat untuk diriku di masa depan. Aku kembali ketar-ketir. Tulisan macam apa yang akan kubuat?
Tulis hapus tulis hapus tulis hapus inilah penyebabnya.
Kulirik jam dinding rumahku. Pukul 01.47 am. Sudah lewat tengah malam, sementara aku masih tenggelam dalam luapan emosi. Otakku berlari macam siput memilah kata yang akan kutulis hapus itu.
Setelah berbagai drama, surat itu terkirim juga.
Yes! Besok pagi aku tak perlu mencari-cari jawaban ke sana ke mari saat ditanya suamiku. Blog ini In Sha Allah akan terisi penuh selama lima pekan ke depan. Semoga, Allah takdirkan diriku. Allah mampukan aku meraihnya.
SURAT UNTUK DIRIKU DI MASA DEPAN
Hai, Assalamu ‘Alaikum, Khulaipah..
Dari lubuk nan paling dalam pada tiap bait doa yang dipanjatkan berharap, semoga kamu selalu sehat dalam taat, berkah umur, berkah rezeki, dikelilingi oleh orang-orang baik yang sama-sama ingin membangun jembatan untuk menggapai cinta Sang Maha Rahman.
Dear diri Khulaipah di masa depan..
Orang bijaksana dalam buku yang kamu baca bilang kalau pribadi kita di lima tahun yang akan datang dilihat dari empat hal;
- Buku-buku yang sedang kamu baca
- Kebiasaan-kebiasaan yang sedang kamu tanamkan
- Orang-orang yang saat ini ada di circle kamu
- Makanan yang sering kamu makan
Kutahu kamu seorang visioner. Sejauh ini, kamu merencanakan hal-hal yang ingin kamu lakukan. Kamu mau mencoba sesuatu yang belum pernah kamu kerjakan. Aku tahu, rasa gugup yang selalu menggelitik tiap kamu memutuskan sesuatu yang ingin kamu coba. Hingga kamu maju mundur akan melakukannya atau tidak. Namun pada akhirnya, kamu berkesimpulan dan mengatakan yup, patut dicoba.
Great, Khulaipah..
Berpetualanglah! Sebagaimana kamu memutuskan untuk selalu menuntaskan bacaanmu. Menarilah bersama kata-kata. Tuangkan pikiranmu dalam tulisan-tulisan sekalipun retjeh tiada tujuan. Barangkali suatu saat, kamu bisa menginspirasi orang lain, terutama anak-anakmu yang kamu cintai tiada henti.
Buku, kebiasaan, circle dan pola makanmu itu wajib kamu perhatikan. Aku hari ini tak sabar melihatmu di lima tahun mendatang. Mampukah kamu berdiri istiqomah dalam track yang sudah kamu bangun? Terwujudkah mimpi berjangkamu itu?
Bukan, bukan untuk mendahului takdir Tuhan. Hanya jika kau merancang apa yang akan kau lakukan dalam hari-harimu, kau merasa bergairah menjalaninya. Merasa waktu yang sudah diberikan berpagar batas itu tidak sia-sia.
Namun mengertilah, Khulaipah sayang..
Semua yang kamu rancang itu berada dalam kehendaknya manusia. Ada Tuhan kita Sang Maha Segala-galanya yang menentukan akhirnya. Kelak, jika mimpi dan keinginan itu belum terwujud, janganlah berputus asa. Pastikan saja semangatmu tak pernah berhenti menggali satu dua nasib lain yang lebih berarti dengan lebih bahagia.
Semoga, Allah selalu menjagamu.
Sincerely, Aku, dirimu yang saat ini.


keren mba, salam kenal ya mba. semoga saya juga bisa jadi perempuan visioner
Salam kenal juga, Mba Marisa. Terima kasih sudah mampir di rumah ini. Mari bertumbuh dan berdaya bersama.