“Semalam aku skip laporan. Huhu … Padahal udah nulis, udah BW. Cuma sekali itu aja aku lupa. Akhirnya dikick dari grup ODOP. Kusedih. Huhuhu …” Curhat seorang temanku, ummu Bia, membuka obrolan kami di sebuah media sosial pagi ini.
Aku jelas kaget. Tiap materi di lobi grup besar OPREC di beberapa pekan sebelumnya, namanya selalu muncul menjadi penanya. Ia begitu aktif dan antusias mengikuti rangkaian kegiatan ODOP yang kesanku tentangnya juga beda dari komunitas lain.
“Iya, huhuhu … Gak ada toleransi sama sekali, hiks. Di saat yang lain banyak utang, aku utang sekali gara-gara kelupaan isi link, padahal udah nulis,” lanjutnya lagi.
Sontak aku ingat diriku kemarin. Untuk menyelamatkan posisiku sebagai calon anggota resmi, bagaimana pun caranya kutempuh jua. Sejak Kamis malam, aku sudah membuat timeline apa saja yang harus dikerjakan lebih dulu. Detik-detik yang begitu riskan karena pekan kemarin keluarga besar kami mengadakan family gathering sepanjang weekend.
Pekan itu utang tulisanku satu, dengan tanggungan lain berupa satu tulisan wajib tiap hari dan satu esai tantangan. Total yang harus kukerjakan sebelum jam Cinderella ada 3. Sementara aku sudah membayangkan bagaimana kerempongan di jalan. Seorang ibu dua anak yang sedang aktif-aktifnya, ditambah kebiasaan mabuk darat menjadi paket lengkap ketar-ketirku. Namun keinginan untuk bertahan begitu kuat.
Beruntungnya waktu laporan menulis dibuka sangat panjang. Untuk tugas Jum’at kusetor di pagi hari sebelum berangkat rihlah. Sabtunya kurencanakan setor malam hari saat istirahat di penginapan. Apesnya, malam itu aku punya dua tanggungan yang harus diselesaikan, dateline utang dan tulisan harian. Sedangkan badan sudah meminta haknya. Aku ketiduran dihantui tugas yang belum tuntas.
“Hari Sabtu dan Ahad menjadi hari seram di ODOP,” balasku menanggapi curhat temanku tadi.
Betapa tidak, kesalahan akibat kelalaian diri macam lupa isi gform menjadikan posisi sebagai calon anggota resmi terancam. Rasanya perjuangan selama empat pekan yang dilalui menguap begitu saja. Aku pun membayangkan bagaimana keadaan diriku jika berada di posisi itu.
Apa mau dikata, al-insaanu makaanu al-khatha-i wa an-nisyaan, bahwa manusia itu tempatnya lupa dan alpa. Lain lagi tanggapan PJ yang bertanggungjawab menerima pengumpulan tugas-tugas tiap hari, tentang lupa adalah manajemen waktu.
Yups, aku merenung lagi. Bukankah manajemen waktu itu termasuk basic skill yang harus dikuasai orang-orang jika mau sukses? Minimal, minimalisir kendala dan masalah. Apalagi berada di pekan-pekan terakhir, semakin banyak godaan, makin tinggi ujian. Tapi makin terbiasa juga untuk menulis dan mengunggah tulisan.
Aku menenangkan sahabatku ini dengan hikmah yang tersembunyi. Barangkali Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Atau akan ada kejutan lain yang disiapkan Allah dengan sesuatu yang di luar batas pikiran hamba-Nya. Be positive thinking, kataku.
Begitulah, kesan ODOP di mata kami terlalu keren untuk sebuah komunitas yang gratis, namun hal yang diberikan totalitas tanpa batas. Wajar jika seseorang gugur di detik-detik kelulusan merasa sedihnya luar biasa. Merasa patah hati jika tidak meraihnya. Kemasygulan itu berlarut hingga menularkan kesedihan bagi yang lain.
Aku berharap, semoga ia akan menantang dirinya lagi di OPREC ODOP yang akan datang. Kami yang sedang berjuang mencapai garis finish dimampukan dan diberinya kekuatan. Tak usah berlarut dalam penyesalan, cukup jadikan apapun yang sudah terlanjur menjadi sebuah pelajaran.
Demikian, semoga tak ada yang tertinggal kecuali hikmah.

Iya aku pun berasa banget kak di awal-awal ikut. Sibuk dengan urusan anak serta kerjaan, ditambah nulis di Odob dan event lainnya yang agaknya sedikit nekat aku ikuti. Tapi akhirnya masih bertahan hingga saat ini Semoga kita sama-sama lolos ya kak.
Aamiiin. Semangat, yuk, Akak. Tinggal berapa hari lagi,,
Semangat buat teman kakak. Sini peluk dulu ya kak.