Pagi itu, aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu kelas. Hatiku berdebar, sama seperti pertama kali aku berdiri di depan mahasiswa kampus beberapa tahun lalu. Bedanya kali ini bukan sebuah kelas dengan kursi single berderet rapi, melainkan sebuah ruang di pondok pesantren, dengan meja panjang berbangku dua, dan sebuah papan tulis whiteboard yang putihnya pudar karena banyak tulisan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” ucapku pelan, mencoba menenangkan degup jantung yang terasa cepat.
“Wa’alaikumussalam…” jawab sebagian santri, suaranya tidak serempak. Ada yang masih tertawa kecil, ada yang asyik menggambar di buku, bahkan anak di belakang masih mengucek mata merah mereka dan terbangun kaget. Aku menarik napas dalam-dalam. Ini bukan kelas kampus, Rawda. Sabar…
Aku membuka halaman pertama buku ABY.
“Baik, Anak-anak… kita mulai dengan hiwar,” kataku sambil menulis judul materi di papan. Kutulis kata ‘At-ta’aruf’, yang artinya perkenalan.
“Yuk… Unzhurna ila kitabikunna, istami’na jayyidan, tsumma a’idna. Mari perhatikan tulisan di bukunya, dengarkan baik-baik, kemudian ulangi setelah Ustadzah,” kataku lagi memberi aba-aba.
Kubacakan kalimat demi kalimat dari buku. Suaraku datar saja, seperti dosen membaca teks di kampus. Sementara kelas sedikit riuh. Ada yang ikut menirukan setengah hati, ada pula yang hanya menatap kosong. Aku bisa melihat jelas sebagian anak bersemangat menirukan apa yang kubaca, mengangguk cepat seolah paham. Tapi matanya bingung. Mereka tidak sungguh-sungguh mengerti.
“Ah, biarlah… Yang penting mereka ikut mengucapkan. Nanti kalau sudah terbiasa, mereka akan mengerti sendiri,” aku membatin, mencoba meyakinkan diri.
Kuputuskan untuk menunjuk satu anak di depan. “Coba kamu, baca hiwar ini dengan temanmu.”
Anak itu menunduk, suaranya pelan. “Ass… Assalamu ‘alaikum…”
Temannya menahan tawa, lalu menjawab, “Wa’alaikumussalam..” suaranya lirih kecil nyaris tak terdengar.
Aku menghela nafas panjang. Sebagian diriku ingin segera menegur keras, agar mereka serius. Sebagian lagi, hanya ingin menutup buku dan berkata: “Sudahlah, percuma.” Namun mataku menangkap sesuatu: anak yang kuberi tugas tadi tampak menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah. Ada rasa bersalah di hatiku. Mereka bukan malas, mereka hanya takut salah. Dan aku… barusan terlalu cuek.
“Ya Allah… ini jauh dari yang kubayangkan. Aku terbiasa menjelaskan teori pada mahasiswa yang siap berdiskusi, bukan pada anak-anak yang bahkan masih kesulitan membaca Arab,” batinku. Aku menelan ludah. Sebuah kenyataan baru menepuk pundakku. Hari ini aku benar-benar memulai dari nol.
Bersambung~
