Pagi itu, aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu kelas. Hatiku berdebar, sama seperti pertama kali aku berdiri di depan mahasiswa kampus beberapa tahun lalu. Bedanya kali ini bukan sebuah kelas dengan kursi single berderet rapi, melainkan sebuah ruang di pondok pesantren, dengan meja panjang berbangku dua, dan sebuah papan tulis whiteboard yang putihnya pudar…

