Kelas sudah berakhir. Seperti biasa saat pergantian jam pelajaran, aku ke kantor untuk beristirahat sejenak. Kubuka lagi buku ABY. Kuingat-ingat materi yang tadi kusampaikan; tentang perkenalan diri, beberapa kata ganti sederhana, dan sedikit arti mufrodat dalam bahasa Indonesia. Aku sudah membacakan hiwar, menerangkan artinya, lalu meminta anak-anak menirukan. Secara teori, tugasku rampung. Namun entah emosi apa yang ada di dalam hati, emosi dalam ruang kosong yang tak terisi. Benarkah aku mengajar, atau sekadar membacakan teks?
Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin begini caranya mengajar anak usia SMP dan SMA. Tapi semakin lama, aku makin ragu. Apakah cukup hanya dengan membacakan hiwar, menjelaskan makna, lalu menutup dengan tugas hafalan? Rasanya seperti memberi makanan yang hanya lewat di lidah, tanpa pernah benar-benar merasakan enaknya makanan itu.
Kebingungan lain menambah resahku. Aku belum hafal nama mereka satu per satu. Di kelas kuliah dulu, mahasiswa selalu memperkenalkan diri dengan lantang. Tapi di pondok ini, mereka hanya duduk berjejer, wajahnya mirip-mirip, berseragam sama. Sementara aku kesulitan membedakan. Setiap kali menunjuk, aku harus mengingat nama-nama mereka lewat list absensi.
Dan yang paling menyiksa, aku sadar metode ini monoton. Di kelas perguruan tinggi, cara ini lumrah; membaca teks, memahami makna, menghafalkan struktur. Tapi di hadapanku sekarang, bukan mahasiswa yang terbiasa menganalisis. Mungkin ini pula menjadi jurang antara aku dan mereka. Aku, seorang milenial yang terbiasa dengan kelas serius, buku catatan penuh coretan, dan diskusi panjang. Mereka, generasi Z, yang hidup di dunia cepat, penuh warna visual, akrab dengan video singkat dan interaksi dinamis. Dunia kami berbeda, dan cara belajarnya pun barangkali tak sama.
Hari itu, aku bertanya pada anak-anak, “Fahimtunna, ya, Banaati?”
“Fahimnaa, Ustadzah!” jawab mereka serentak, nyaris seperti paduan suara.
Namun kelas kurasa dingin. Tidak ada sorot mata berbinar, tidak ada rasa ingin tahu yang memancar. Hanya jawaban singkat, kaku, lebih mirip formalitas. Aku tercekat. Apakah benar mereka paham, atau sekadar mengamankan diri dari pertanyaanku?
Dadaku sesak, antara sedih dan bingung. Aku tidak bisa membaca mereka. Tidak tahu apakah diam mereka berarti bingung, takut, atau hanya bosan. Saat itu aku menyadari, menjadi guru bukan sekadar mengajarkan kosakata. Aku harus belajar membaca bahasa tubuh, sorot mata, bahkan keheningan mereka.
Aku menutup buku ABY dengan pelan. Untuk pertama kalinya, aku berdoa lirih di dalam kantor yang sepi: “Ya Allah, ajari aku mengenali mereka lebih dari sekadar kata paham”. Pelan-pelan, aku ikut belajar menemukan arti baru dalam mengajar. Bahwa mengajar bahasa Arab bukan sekadar membacakan hiwar dan memberi hafalan. Ini tentang menemukan jembatan antara dua generasi, agar kata-kata asing dari buku bisa menjadi bahasa yang hidup.
Bersambung~
