Lagi asyik baca buku Millennial Teachers for Gen Z, tiba-tiba aku tersentak pada satu bagian. Duh ternyata, betapa rentang waktu kelahiran itu menimbulkan kesenjangan dan perbedaan yang tidak kecil, terutama dalam soal pendidikan dan pengajaran.
Paragraf ini yang bikin aku langsung nyes-nyes:
“Masih banyak generasi X dan Milenial yang kadang tidak bisa move on dari pengalaman mengajar siswa zaman dulu yang supersopan. Jauh berbeda dengan siswa sekarang yang kalau berpapasan di jalan dengan gurunya, mereka bersikap biasa saja. Status guru hanya disematkan di sekolah. Kalau di luar sekolah, mereka akan membangun hubungan pertemanan.” Hlm. 21
Aku tersenyum kecut. Ingatanku melayang pada obrolan santai beberapa waktu lalu dengan seorang ibu lintas generasi. Kubilang lintas generasi, karena jarak usia kami cukup jauh. Beliau lahir dari generasi X pertengahan, sedangkan aku generasi Milenial akhir.
Obrolan kami panjang, ke mana-mana. Sampai akhirnya menyentuh topik perbedaan generasi. Dengan nada serius, sang Ibu berkata, “Beda banget, ya, anak sekarang dengan zaman dulu. Padahal dari sekolah basis agama. Ketemu sama yang lebih tua, kok, berasa ngga ada hormatnya.”
Hm, aku mengangguk pelan menghormati pendapat beliau. Namun, ada keraguan dalam hati. Setengah hatiku merasa ngga setuju. Bukankah kita ngga boleh serta-merta menyalahkan sekolahnya? Toh, yang kita temui adalah individu, bukan semata-mata hasil produk lembaga. Tapi kusimpan saja pikiran itu.
Hingga saat mataku membaca petikan di halaman dua puluh satu buku itu, aku merasa lega. Ada penjelasan ilmiah yang menegaskan keraguan tentang ketidaksetujuanku tadi. Bahwa ternyata, perbedaan sikap itu bukan karena hilangnya adab, melainkan bagian dari perubahan relasi antara guru dan murid di era berbeda.
Generasi sebelumnya melihat guru sebagai figur otoritas penuh, sementara generasi Z cenderung membangun relasi yang lebih cair, bahkan mirip dengan pertemanan.
Di titik ini hatiku menjadi lapang. Setengah hatiku yang dulu diam kini menemukan jawabannya. Aku sadar, memahami generasi bukan berarti mencari siapa yang lebih benar atau salah, melainkan bagaimana kita bisa menyesuaikan pendekatan.
Guru tetaplah guru, tapi cara generasi sekarang menghargai guru bisa jadi tidak sama dengan saat kita memperlakukan guru kita dulu. Kita yang menunduk sopan di jalan, atau langsung salim saat bertemu, melainkan dengan cara mereka sendiri yang lebih kasual dan lebih setara.
Aku menutup buku, sambil berkata pada diri sendiri, “Cukup paham, dan mari kita belajar ilmunya, biar makin paham.”