Beberapa bulan belakangan ini, aku berusaha merutinkan nulis setiap hari. Mulanya terlihat seperti tantangan kecil, sebab tahun lalu aku sudah pernah menantang diri dengan challenge yang serupa. Namun ternyata, semakin aku berusaha konsisten, semakin terasa bahwa menulis bukan hanya sekadar kegiatan menuangkan kata. Semua orang tentu punya tantangannya masing-masing dalam menulis. Tapi untuk seorang ibu rumah tangga yang mau melakukan kegiatan menulis, ada nuansa khas yang bikin pengalaman menulis menjadi unik.
Berikut lima fakta unik ala aku sebagai ibu rumah tangga doyan menulis yang sering kualami:
- Ide sering datang di waktu yang salah
Sering banget ide itu datang di momen yang aneh. Pas lagi masak, lagi nyapu, atau yang paling ngeselin, datang ketika shalat. Waktu shalat kan singkat, ya. Fokusnya seharusnya khusuk beribadah. Eh, si ide malah mampir, nyeret-nyeret perhatian. Giliran shalat selesai dan siap menulis, ide malah ambyar kaya ngga pernah datang. “Duh, ide! Kenapa harus datang di waktu yang salah, sih? Coba dong, datang di waktu siap bertempur dengan keyboard dan anak-anak yang terkondisikan?”
- Rasa bersalah ketika memilih nulis dibanding mengurus rumah
Menulis itu kebutuhan jiwa. Ia menjadi jalan ninja buatku untuk menjaga kewarasan diri. Meski begitu, masih sering muncul rasa bersalah. Kadang muncul suara kecil di kepala, “Kok aku lebih memilih nulis dari pada beres-beres rumah? Apa aku egois?” Aku tahu, pekerjaan rumah itu ngga ada akhirnya. Udah diberesin satu ruang, ruang lain menunggu. Sementara waktu untuk menulis itu terbatas. Rasa bersalah menjelma, tak terpisahkan di saat berkegiatan.
- Overthinking dan merasa tidak cukup baik
Kadang pun, aku merasa minder. Aku masih penulis amatir, jadi pertanyaan-pertanyaan seperti “Tulisanku layak dibaca, ngga, ya?” atau “Siapa sih yang mau baca tulisan begini?” sering banget muncul. Padahal, aku menulis bukan untuk kesempurnaan, melainkan untuk belajar. Tetap aja, keraguan menjadi bayangan yang sangat mengganggu.
- Tidak punya “Me Time” yang utuh
Sebagai ibu rumah tangga, waktu pribadi itu barang langka. Jadwal menulis seringkali terasa seperti “waktu curian”, bukan waktu khusus yang tenang dan bebas gangguan. Aku harus rela menunggu anak-anak tidur supaya bisa menulis, atau dari jeda-jeda sebentar sebelum beberes lagi. Kebanyakan, waktu menulis berebut tempat dengan perhatian yang lain. Bukan waktu yang benar-benar utuh. Akibatnya? Menulis seperti lomba cepat-cepat. Siapa yang lebih dulu, kata-kata atau distraksi dari rumah.
- Kesulitan konsisten
You know, karena ritme pekerjaan rumah yang belum beraturan, aku kesulitan menjaga konsistensi menulis. Pas ngomong, “Ayo, menulis tiap hari.” Rasanya gampang banget. begitu dijalani, banyak hal kecil yang bikin goyah. Ada hari di mana kerjaan rumah ngga kelar-kelar. Yang cucian menumpuk, anak rewel, dapur berantakan. Begitu ada waktu luang, badan sudah terlalu capek untuk sekadar melihat notes. Saat seperti itu menjadikan mood naik dan turun.
Begitulah, fakta-fakta unik yang kualami sebagai ibu rumah tangga yang mencoba konsisten menulis tiap hari. Perjalanannya ngga mudah. Ada rasa bersalah, ada keraguan, ada distraksi tiada henti. Tapi di balik itu semua, ada kepuasan yang tidak bisa digantikan tiap kali berhasil menulis sesuatu.
Buat aku, menulis adalah ruang pribadi yang bikin aku menjadi “aku”, meski sehari-hari disibukkan dengan peran sebagai istri, ibu, dan mengurus rumah tangga. So, meski jalannya penuh tantangan, aku tetap ingin menulis. Karena setiap kata yang tertulis hari ini adalah investasi dan hadiah untuk diri sendiri di masa depan.