“Assalamu ‘alaikum, Mbak, punya antum udah selesai. Ma Sya Allah.. Antum pake amalan apa ini?” begitu tulisnya di WA tadi malam.
Aku tersenyum bahagia. Rasanya dadaku hangat, penuh syukur. Nyaris saja aku melompat dari kursi ketika laman penyetaraan ijazah itu terbuka. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, kegembiraan yang luar biasa menyebabkan palpitasi itu. Aku masih menatap layar komputer tak percaya. Status penyetaraan ijazah yang dua hari lalu kukirim, kini sudah berganti menjadi selesai.
“Memang biasanya berapa lama, Mbak, kalau urus penyetaraan?” ketikku balik.
“Yang paling cepat itu delapan hari, Mbak. Baru loh ini ana ngurus berkas 3 hari selesai.”
Aku menutup mulut menahan teriakan kecil. Bismillahi Ma Sya Allah… secepat itu? Tangan ini gemetar mengetikkan sesuatu di keyboard. Dalam hati aku menggumam, “Alhamdulillah Ya Rabbi… banyak sekali kasih sayangMu untukku..” Kusandarkan tubuh ke kursi, mencoba mencerna betapa Allah memudahkan urusan ini. Rasanya seperti semesta mendukung setiap langkah, memberi kelancaran satu demi satu urusan yang kujalani. Aku bisa gercep mengurus ini-itu, seakan tidak ada hambatan berarti. Semua seperti dipermudah, dari pintu ke pintu.
Lalu, saat kubuka file dokumen resmi penetapan, mataku terpaku pada satu nama di lembar kedua. Nama yang tak asing bagiku. Nama yang seketika membawa ingatan jauh ke masa kuliah, ke ruang kelas penuh diskusi, ke wajah seorang dosen yang dengan penuh dedikasi mengajar kami di UIN Sunan Kalijaga. Jantungku berdetak lebih cepat, senyumku merekah makin lebar.
“Ya Allah…” gumamku lirih. Ternyata hikmahnya baru urus penyetaraan sekarang. Supaya bisa ‘berjumpa’ lagi dengan beliau, walau hanya lewat selembar kertas.
Segera aku memanggil Yabbi mengabarkan kalau proses penyetaraan sudah selesai. Yabbi berlari ke arahku. “Alhamdulillah, ya, Bi, Hikmahnya baru urus sekarang, biar ketemu nama beliau. Padahal cuma di atas kertas, tapi rasanya hangat sekali.” ucapku.
Yabbi tersenyum, matanya memancarkan kehangatan. “Itu namanya berkah. Allah tahu kapan waktu yang tepat.”
Aku membenarkan. Kalau saja aku mengurus berkas jauh sebelum momen ini, mungkin aku tak akan mendapat kejutan manis ini. Pertemuan kecil yang tak terduga, tapi sangat membekas di dalam hati.
Aku jadi teringat pesan seorang Ustadz semasa nyantri. Beliau bilang, “Kalau urusanmu dipermudah, jangan pernah merasa itu karena usahamu sendiri. Itu semua doa yang Allah kabulkan. Mungkin ada doa orang tuamu, mungkin juga doa-doamu dulu yang baru sekarang dijawab.”
Hari ini, aku kembali membuka file penyetaraan itu sambil tersenyum. Nama beliau masih terpampang jelas, seolah menyapa diriku dari masa lalu. Aku merasa diberi hadiah, bukan hanya dokumen resmi, tetapi juga kenangan indah dan pelajaran tentang waktu yang terbaik menurutNya. “Alhamdulillah Ya Rabb… Terima kasih atas rahmatMu. Terima kasih untuk setiap kemudahan, bahkan untuk kejutan kecil yang membuat hati semakin bersyukur.”