Salah satu materi yang kami bedah di komunitas ODOP adalah mengenal teks nonfiksi. Materi disampaikan oleh Kak Sakifah, anggota ODOP yang tercatat sebagai seorang dosen di universitas Siliwangi. Beliau merupakan seorang bloger produktif dan telah menerbitkan beberapa karya, diantaranya novel berjudul Langit Doa, buku Menuju Rumah Tanpa Riba, Bank Syari’ah, Manajemen Risiko, dan Buku Ajar Bank Syari’ah.

Suasana kelas hangat dan antusias. Pemateri mengomunikasikan materi dengan dua arah. Setelah perkenalan singkat, pemateri memantik kelas melalui pertanyaan seputar materi yang akan dibahas. Kira-kira bunyi pertanyaannya, “Teman-teman sudah bisa membedakan tulisan fiksi dan nonfiksi?”
Tentu saja jawaban setiap peserta rata-rata sudah bisa membedakannya. Namun, menggali sesuatu yang sudah pernah dipelajari dengan lebih dalam lagi tentu akan menjadikan pemahaman semakin baik. Karenanya, kami tetap bergairah melanjutkan diskusi malam itu.
Apa itu teks nonfiksi?
Mengutip dari penuturan pemateri di dalam kelas, bahwa teks nonfiksi adalah jenis teks yang ditulis berdasarkan pada kejadian nyata dan memiliki tujuan untuk menyampaikan pengetahuan, memaparkan argumen, atau menjelaskan suatu topik tertentu. Teks ini ditulis berdasarkan pengamatan dan data melalui sumber-sumber yang dapat dipercaya. Penulis teks nonfiksi cenderung menggunakan bahasa yang denotatif, yang bertujuan untuk menyajikan fakta dengan jelas dan menggambarkan topik secara akurat. Sementara, data dan fakta itu harus dipaparkan dengan benar tanpa rekayasa atau ditambah imajinasi penulis.
Perbedaan mendasar antara fiksi dan nonfiksi
Bilamana diperhatikan, ada benang tipis antara fiksi dan nonfiksi dalam kriteria imajinasi penulis dan argumen. Dari beberapa pertanyaan yang dilayangkan, ada beberapa soal yang tidak disepakati para peserta belajar. Semisal kalimat, “Sepertinya, ada 7 rusa di kebun binatang Ragunan.”
Masih merangkum penjelasan pemateri, seringkali para penulis kesulitan membedakan mana yang memang pendapat atau argumen, dan mana yang sebenarnya hanya imajinasi penulis. Sebagai penulis, tidak jarang pula merasa kesulitan membedakan jenis tulisan jika harus menilai dari satu atau dua kalimat. Penulis butuh banyak pertimbangan untuk sekadar memutuskan jenis tulisan itu sendiri.
Kabar baiknya, pemateri malam itu menenangkan dengan berseloroh, “Menjadi seorang penulis tidak harus selalu benar 100%, kok. Sebagian pekerjaan yang membingungkan, boleh dilimpahkan pada editor. Jadi kerjanya penulis cukup nulis aja, selebihnya delegasikan tugas yang tidak mampu diselesaikan sendiri.” Nah, mendengar statemennya ini semakin membuat penulis bersemangat, kan, untuk tetap berkarya tanpa memikirkan kegiatan tulis-hapus, tulis-hapus.
Contoh-contoh teks nonfiksi
Materi lain yang disampaikan adalah contoh langsung dari teks-teks nonfiksi. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa teks nonfiksi bertujuan untuk menyampaikan sebuah informasi. Berikut contoh-contoh dari teks nonfiksi, diantaranya adalah karya ilmiah, artikel, esai, ensiklopedia, buku panduan, surat, cerita nonfiksi, kritik sastra, referensi, bunga rampai, dsb.
Karya ilmiah:
– Skripsi
– Tesis
– Disertasi
– Artikel jurnal
– Buku ajar
– Buku referensi
– Prosiding
– Bunga rampai
Artikel:
– Blog
– Kanal berita
– Halaman website resmi instansi/komunitas
– Surat kabar
– Majalah tertentu
– Surat resmi baik ditulis oleh pribadi maupun instansi
So, teman-teman pembaca di sini sudah pernah menulis yang mana aja nih dari beberapa contoh teks nonfiksi di atas? 🙂
NB: Catatan di atas masih sebagian dari rangkuman pembelajaran, belum sampai pada statement kesimpulan.
