Skip to content
Catatan Khulaipah
Menu
  • Home
  • Travelogue
  • Review Buku
  • Catatan
  • Nostalgia
  • Contact
Menu

Keputusan Sulit

Posted on June 22, 2024 by Yammi Khulaipah

Aku berjalan gontai menelusuri lorong-lorong kantor. Semua ruangan yang kulalui masih sepi. Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Pukul 07.30 pagi. “Benar”, batinku. Email temu janji dari miss. Syeikah semalam pukul 08.00 pagi. Aku bersegera menuju ruangan di ujung koridor dan kuputuskan untuk menunggu miss. Syeikah di kursi paling pinggir.

Sebuah notifikasi pesan di HP menyala.
“Bagaimana kelanjutannya, Dear? Semuanya OK?” tulisnya.

Sekelebat bayangan pertanyan-pertanyaan itu hadir lagi. Bagaimana kalau sampai menikah, aku masih belum juga bekerja? Bagaimana aku akan bertanggung jawab dengan istri dan keluarga? Apa kata mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergelantungan datang silih berganti. Sementara tidak ada yang tahu tentang rezeki, jodoh dan maut kecuali Sang Mahamenentukan. Aku menarik nafas dalam. Pelan-pelan kurunut lagi apa yang menjadi kegelisahanku itu. Kujawab satu-satu berurutan dengan kesabaran ekstra.

“OK, Dear. Nanti dikabarin lagi hasilnya,” jawabku.

Tinggal sepuluh menit lagi waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sekilas kulihat dari kejauhan, miss. Syeikah sudah membuka pintu ruangannya. Aku bergegas berjalan mendekati daun pintu. Kuketuk pintu lalu beruluk salam. Miss. Syeikah mempersilahkanku masuk.

“Keyf halak mr. Arie?” Sapa miss. Syeikah.

“Alhamdulillah, bikheir ya madam.” Aku sudah mulai gemetar menanti kiranya tentang keperluan apa pemanggilan pagi ini.

***

Lagi-lagi tidak ada yang tahu tentang nasib dan takdir. Pihak HR memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja, tapi aku diberitahu bahwa visa negara itu masih berlaku selama sebulan sebelum benar-benar pulang.

Aku menuju mobil yang kuparkir di depan gedung. Pikiranku bertambah kacau. Kukabari calon istriku.

“Sepertinya kita tidak jadi ke Bahrain. Mereka belum bisa memberikan visa keluarga. Perjanjian kerja dengan perusahaan ini juga berakhir. Pilihan ada dua, Dear. Aku akan berusaha apply lagi ke perusahaan-perusahaan sini sebelum benar-benar pulang, atau buruk-buruknya aku pulang tanpa punya pekerjaan,” ceritaku via pesan teks panjang.

Centang dua dan langsung biru, tanda ia langsung melihat pesan. Aku deg-degan apa tanggapannya.

“Kheir, Dear. Berusaha dan ikhtiar lagi sampai batas kemampuan kita.”

Hanya itu balasan yang diketiknya. Pikiranku masih berkecamuk membayangkan ekspektasi apa yang ada dalam dirinya. Maklum saja, normalnya orang tentu akan memilih laki-laki yang mapan.

Kata orang, menuju pernikahan akan bermacam godaan dan ujiannya. Entah dari kedua belah pihak pasangan, keluarga atau malah pihak ketiga. Namun aku meyakini bahwa ujian itu diberikan karena hamba-Nya mampu menanggung beban. Tiap-tiap kesulitan pasti ada hikmah dan solusi.

Jendela mobil yang kukendarai berembun karena hujan subuh tadi. Ada rasa hambar menyelimuti diri setelah pesannya kubaca. Aku menguatkan hati, “Allah pasti akan memberikan jalan keluar di setiap kesulitan yang dirasakan hamba. Bukankah sudah tertulis dalam nash-Nya setelah kesulitan akan ada kemudahan? Dikatakan dua kali pula dalam dua ayat. Artinya, kita hamba tak boleh ragu dengan keputusan-keputusan takdir yang sudah digariskanNya.“

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kenapa Liburan ke Solo dari Jogja Lebih Seru Naik KRL?
  • Refleksi Hari Santri: Sekali Santri, Tetap Santri
  • Hadiah Manis dari Waktu yang Tepat
  • 5 Fakta Unik Jadi Ibu Rumah Tangga yang Doyan Nulis
  • Millennial Teachers for Gen Z

June 2024
MTWTFSS
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
« May   Jul »

Hallo, I'm Khulaipah. This is my personal blog. I love write everything.

Please enjoy my blog and don't forget to drop your comment~

"Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bandingkan dirimu dengan versi dirimu yang kemarin."

© 2026 Catatan Khulaipah | Powered by Superbs Personal Blog theme