“Pernikahan kita bukanlah pernikahan Cinderella, yang langsung berlabel ‘and they live happily ever after‘ begitu saja. Pernikahan kita diperjuangkan bersama, meski dengan rasa lelah dan air mata.”– Fufu
Pernah membaca buku berjudul Rumah Tangga Surga; Bahagia Merawat Cinta Sepanjang Masa karya Fufu Elmart dan Canun Kamil? Yabi dan Bundami, begitu biasanya para Sakeena rangers memanggil keduanya. Mereka dikenal sebagai romantic couple trainer. Buku yang mereka tulis seputar pernikahan dan parenting yang diterbitkan oleh Sakeena Publishing House.
Salah satu buku yang kubaca dari karya mereka berdua adalah buku ini. Sebelum diterbitkan Sakeena sendiri, Rumah Tangga Surga diterbitkan oleh penerbit Mizania. Hanya saja, fisik buku terbitan Mizania sekarang sudah langka. Kudapat buku ini waktu berburu diskon buku-buku Mizan yang stoknya ada di Surabaya.
Identitas buku
Judul: Rumah Tangga Surga; Bahagia Merawat Cinta Sepanjang Masa
Penulis: Fufu elmart & Canun Kamil
Penerbit: Mizania
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 320 Halaman

Tiap topik bahasan yang dijelaskan di dalam buku ini, penulis berikan contoh dari berbagai kasus. Contoh-contoh kasus yang rata-rata bernama bunga dan kumbang itu semakin membuat pembaca memahami pembahasan sehingga pembaca punya gambaran nyata solusi yang harus diambil jika hal-hal demikian menerpa rumah tangga.
Kelebihan buku ini menurutku dari sisi pemilihan kata dan narasi yang dipakai kedua penulis. Aku merasa sangat akrab dengan penulisnya, berasa selalu berdialog di tiap judul. Bahasa komunikasi yang mereka pakai begitu kekinian dan keanakmudaan. Hingga tak sadar, halaman demi halaman tuntas.
Mengingat mitsaaqan ghaliizhan
Membaca buku ini, aku jadi flashback ke waktu hampir tujuh tahun silam, saat komitmen yang kata penulis buku ini disejajarkan dengan komitmen para nabi dalam mengemban risalah-Nya. Ia dinamakan dengan mitsaaqan ghaliizhan, perjanjian yang kuat dalam pernikahan.
Nikah, salah satu kata paling ditunggu-tunggu bagi para single lillah. Entah karena teman-teman yang sudah pada menikah, umur yang kian hari kian bertambah, atau calon pasangan yang menjanjikan akan datang segera, tiba-tiba kabur begitu saja. Makin hari makin galau memikirkan berjodoh dengan siapa dan kapan waktunya.
Namun saat semuanya terlewati. Jodoh sudah dikirim Sang Maha, undangan telah tercetak tinggal menanti denting jam bergeser dari jarumnya, hati ini mulai deg-degan. Wajah merah merona membayang kehidupan akan berubah seketika. Rasanya dunia ini hanya milik berdua saja, yang lain ngontrak dulu.
Duhai para single lillah, yang dipikirkan jangan enaknya saja. Melepas label single supaya tak dikata jomlo sepanjang masa, jangan. Tidak segampang itu mengubah cerita ‘they happily ever after‘. Apalagi kamu yang baca tulisan ini seorang perempuan yang akan berperan sebagai istri, calon ibu, madrosatul ula-nya generasi setelah kita.

Urusan rumah tangga tak sesimpel bayangan sebelum menikah, namun ketika menjalaninya tak sesulit yang dikira. Benarlah perkataan orang tua dulu yang mengatakan bahwa pernikahan itu hasil pembelajaran manusia sepanjang hidup. Tak ada kurikulumnya di sekolah formal. Ujiannya bukan di atas kertas semata. Yang dinyatakan lulus ujian tidak hanya diwisuda di dunia, tapi menambah derajat dan pahalanya untuk memberatkan timbangan di yaumil qiyamah.
Jika pernikahan ibarat sebuah mobil, tentu kita butuh surat izin mengendarai, butuh pemahaman dasar perangkat mobil, aturan lalu lintas, teknik berkendara, pun perlu tahu cara mengoperasikan kendaraan dengan baik dan benar. Begitu juga menikah. Butuh seluk beluk pengetahuan sebelum ijab sah.
Nyatanya, mencipta dan mengadakan surga di dalam rumah butuh proses panjang yang tiada henti. Pernikahan yang harmonis bukan pernikahan yang ngga ada konflik sama sekali, tapi kondisi di mana suami dan istri bisa menangani konflik secara dewasa.
“Perbedaan komunikasi adalah hal yang pasti. Karena adanya perbedaan komunikasi, selalu ada perbedaan cara mengekspresikan cinta.”
~ Kutipan halaman 234

Rumah Tangga tempat belajar seumur hidup yaa