Anyway, buku ini punya suami. Genre berbau perjalanan seperti ini wilayahnya. Sesekali, aku menumpang baca koleksi-koleksi itu. Yabbi anak-anak bilang, “Ini berawal dari Mesir lho ceritanya. Tinggal di Buuts juga. Jangan-jangan kamu kenal.” Wah, lekas saja kuminta buku yang ada di tangannya.
Seperti yang dilakukan kebanyakan orang saat memulai membaca, aku membuka lembar identitas. Kutelusuri satu persatu nama-nama yang tertera.

Dan ya Ampun! Aku mengenali nama editornya. Beliau itu teman seperjuanganku di komunitas Srikandi Lintas Iman di Yogyakarta. Sementara dengan nama penulisnya familiar, hanya saja aku tak begitu ingat seberapa intens perkenalan itu.
Kutanyakan nama penulis buku itu ke salah satu kakak tingkat di Buuts, asrama kami di bilangan Kairo lama. Ternyata betul, kita se-almamater. Aku berasa reuni dan berdialog dengan kakak penulis lewat buku ini. Bernostalgia tentang kemegahan Kairo dan menapaktilasi memori perjalanannya. Latar belakang yang pernah kami rasakan bersama itu, membuat kegiatan membacaku page turner. Lebih-lebih lagi, kami pernah tinggal di satu tempat yang sama di bawah naungan Azhar el-Syarif.
Memoar Perjalanan Kaya Perspektif
Buku ini berisi memoar perjalanan penulis mengenal sejarah, individu, fenomena sosial dan budaya lain. Penulis memulai cerita dari Kairo, lalu terbang ke Eropa. Kalau teman-teman kurang suka sejarah, buku ini patut dibaca. Karena berdasarkan pengalamanku, aku sangat terbantu. Penghayatan makna spiritual penulis dalam perjalanannya mengantarkanku memahami puing-puing sejarah lewat cerita-cerita yang ditulis.
Kukira sulit sekali menemukan buku perjalanan yang menyoroti beberapa hal; wawasan sejarah tempat yang dikunjungi, ulasan keindahan-keindahan sesuatu yang dilihat lewat kacamata seni, berikut hikmah perjalanan traveler itu sendiri. Nah, Maria Fauzi melakukan itu sekaligus di dalam buku ini.
Tiap judul tulisannya sangat informatif. Yang paling menyita perhatianku, ketika penulis berkisah tentang kebudayaan dan tradisi. Aku terkagum-kagum dengan wawasannya yang luwes dan kaya. Ia tahu betul apa-apa yang menarik untuk diceritakan, kemudian piawai dalam menyampaikan. Aku yang ogah-ogahan berhadapan pelajaran sejarah dengan narasi yang membosankan, jatuh cinta pada sejarah yang disampaikan buku ini.
Hal lain yang tak kalah menariknya, mengenai potret Islam di dunia Barat. Penulis menyajikan hubungan perkembangan Islam di dua tempat tersebut dengan sangat apik dan terstruktur.
Nilai Intrinsik Sampul
Katanya, “Don’t judge book by it’s cover.” Namun tetap saja mata tertarik pada pandangan pertama. Seperti sampul buku ini yang menggambarkan Timur dan Barat dalam balutan kerudung panjang seorang traveler. Warna cokelat berarti gurun, sementara biru keungu-unguan menggambarkan Benua Biru.
Adapun tentang judul buku, tadinya kubayangkan mewakili seluruh isi tulisan di dalam sini. Ternyata aku salah, judul itu diambil dari salah satu judul tulisan di dalam buku. But its okay, penulis memberikan kejutan dengan catatan-catatan rapinya mengenai sejarah dirinya di Kairo dan Eropa. Buku ini keren dibaca para traveler yang ingin memulai mengabadikan perjalanannya dalam catatan.


Cakep kak
Terima kasih.. 🙂
Siaap kak, semangat yaa!
Berasa reuni tapi baca buku gak Mbaa? Kebayang sih serunya baca buku yang kita tahu latar tempatnya, bikin baca jadi kaya nonton. Pikiran kita sambil membayangkan ada di sana.
Satu hal yang kusadari, Teh. Membaca buku dengan mengenali penulis lebih dulu itu berasa intens ngobrol dengan tulisannya. Apalagi kita tahu betul yang sedang dibicarakan. 😀