Saat kuputuskan mengikuti kelas menulis di komunitas One Day One Post, aku punya kebiasaan baru. Aku jadi kelelawar ketika semua penghuni rumah tertidur. Aku beraksi di malam hari; menulis dan berselancar ke sana ke mari. Jalan-jalan ke rumah virtual para tetangga dan melihat-lihat bagaimana mereka membangun rumah dan merenovasinya.
Yang kulakukan tentu bukan wasting time. Kesempatan yang kumiliki untuk belajar jika anak-anak tidur malam. Kalau mereka terbangun, jangan ditanya, “Mana tulisannya?” Boro-boro menulis, melirik HP saja susah. Apalagi membukap laptop duduk manis menuangkan ide, menyesap kopi dan menikmati hujan di pinggir jendela.

Tahun-tahun sebelum 2024, aku pernah mengikuti kegiatan menulis yang mengharuskan diri produktif tiap hari. Hanya saja sebelum waktunya lulus, aku sudah meluluskan diri duluan. Entah kenapa, godaan yang datang di tengah jalan itu selalu berhasil menuntaskan misinya. Godaan tercapai maksudnya, aku gagal usahanya.
Sebut saja misal mengikuti kegiatan menulis intensif 30 hari di komunitas A, dengan tantangan yang longgar, absenku masih bolong-bolong. Mendapat challenge dengan tema tulisan tertentu, aku setor tugas, sih, tapi seadanya banget minim penjiwaan dan totalitas. Padahal itu kelas berbayar.
Waktu kedua aku bergabung kelas menulis. Kali ini kucari yang bikin kantong aman menuju gratis. Tantangannya seabrek. Program komunitas ini banyak dan brillian. Tiap hari ada para PJ mendampingi peserta dan mengingatkan laporan tugas menulis. Mirip sekali dengan komunitas yang kuikuti sekarang ini. Lagi-lagi aku mundur teratur.

Kalau begitu, kenapa masih mau menchallenge diri untuk menulis?
Nah, aku juga ngga tahu jawaban pastinya. Magnet kuat apa yang menarik diriku hingga berkeinginan untuk mencoba ulang. Yang paling dekat terpikirkan saat itu hanya bagaimana domain hadiah dari suami ini bermanfaat.
Sejauh ini, aku masih sabar mengulik satu persatu menu di dasbor. Berkunjung ke blog-blog para suhu yang lebih senior. Sesekali dua meninggalkan jejak di lapak-lapak mereka. Ya, berharap mainan baru ini mampu memberi tanpa pamrih. Menebar manfaat literasi dibaca orang tiada henti. Semoga..
So, Apa yang didapatkan dari kegiatan blogwalking?
Dari aktivitas berkunjung ke blog-blog orang, aku mendapatkan beberapa catatan penting untuk kusimpulkan sendiri. Kamu yang kebetulan lewat di rumahku ini, dan melihat ternyata kesimpulanku tidak benar bukan salah, bolehlah dibetulkan, ya.
Pertama, mereka yang punya blog-blog cantik nan ciamik bukan lahir sehari dua. Sudah puluhan tahun para suhu blogger membangun branding dan karya. Aku yang baru memulai, mbok, ya, jangan merasa insecure dengan keadaan.
Kedua, rajin-rajin mengulik menu-menu yang ada di dashboard. Istilah-istilah baru yang mungkin asing sekali di telinga dipahami. Tiap platform blog pun punya karakter dan ciri khasnya sendiri. Namanya belajar otodidak, tak ada gurunya selain pengalaman dan kegagalan.
Ketiga, lagi-lagi tak ada yang instan. Sabar dan tekun mengenali seluruh isi menu yang ada di blog menjadi koentji sukses tidaknya dirimu sebagai blogger. Jangan malu dengan tampilan blog yang masih polosan, tanpa warna, tak menarik mata. Sudahlah, tutup mata, bukakan telinga mendengar masukan, kritikan dan saran dari sesama.
Keempat, selalu asah skill menulis. Jangan bosan ngulik pelajaran kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berkawan akrab sama PUEBI dan EYD. Membaca buku memperkaya ilmu dan wawasan, melatih menulis terus-menerus menjadikan tulisan luwes dan enak dipandang.
Kelima, well, aku ngga tahu lagi mau ngetik apa. Mataku sudah perih dan badan meminta haknya untuk beristirahat. Kusudahi saja cuap-cuap apa ini namanya. Semoga tak ada yang tertinggal kecuali hikmah. Terima kasih sudah membaca. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.
