Skip to content
Catatan Khulaipah
Menu
  • Home
  • Travelogue
  • Review Buku
  • Catatan
  • Nostalgia
  • Contact
Menu

Rektor Kampus UDEL: Pangkatku Dari J.S. Khairen

Posted on June 8, 2024 by Yammi Khulaipah

Bacalah minimal dua buku per bulan. Satu buku fiksi, satunya lagi buku nonfiksi. Buku nonfiksi untuk pikiranmu, sementara buku fiksi untuk hatimu.
~ J.S. Khairen

Siapa yang tak kenal J.S. Khairen. Kalau kita pergi ke toko buku yang ada di mal itu, kita akan melihat buku-bukunya nangkring dalam barisan buku best seller. Tak kalah gagahnya berbaris bersamping-sampingan dengan buku-buku Tere Liye. Tak hanya satu buku yang ada dalam barisan rak best seller, namun beberapa buku.

Ya, aku fan fiksi karya penulis ini. Beliau termasuk penulis aktif yang mempromosikan karya-karyanya di media sosial. J.S Khairen memberi pangkat bagi para pembaca bukunya. Agak narsis, sih, menurutku. Tapi, strategi marketing itu ternyata ampuh menarik orang untuk membaca tulisan dan karya-karyanya. Ditambah lagi akun medsos J.S. Khairen mengizinkan kolaborasi pada siapa pun yang mereview bukunya dan atau hadir pada acara-acaranya.

Bulan lalu, kami menghadiri acara jumpa penulis J.S. Khairen di Gramedia Sudirman Yogyakarta. Kukatakan kami, karena kami adalah satu paket keluarga kecil; aku, Yabbi, Ezzat (5 tahun) dan jagoan terkecilku yang masih dalam gendongan (21 bulan). Kami berbaur di tengah para penggemarnya yang lain. Membawa anak-anak menjadi berkah tersendiri.

J.S. Khairen dan keluarga kecil kami

“Ayo baris, tanda tangannya dari kiri ke kanan. Muter sampai ke belakang. Ngga ada minta foto-foto, ya, kecuali, difoto langsung pas tanda tangan,” jelasnya lantang.

Keluarga macam kami tentu pengecualian. Kami berempat maju minta tanda tangan sekaligus berfoto ria, setelah sebelum adegan itu, Yabbi memenangkan kuis dan mendapatkan buku gratis dari penulis. Nasib baik betul pada kami. Bertambah rasa fanku pada pengarang buku Dompet Ayah Sepatu Ibu itu.

Jumpa penulis kurasa banyak sekali menyimpan hikmah. Saat ditanya bagaimana kok bisa melahirkan berbagai karya yang best seller, ia menjawab, “Kuncinya membaca!” Pesannya pula untuk membaca minimal 2 buku per bulan. Buku nonfiksi untuk pikiran, fiksi untuk keluasan hati.

Buku fiksi dibuat berdasarkan daya imajinasi pengarang berupa khayalan seperti novel, cerpen, fabel, puisi, dan naskah drama. Dalam buku fiksi seringkali kita dapati padu-padan antara dialog, pendeskripsian tempat, dan penggambaran waktu.

Sementara buku nonfiksi, ditulis berdasarkan pengamatan kejadian nyata. Seperti karya ilmiah, esai, artikel, ensiklopedia, surat, dan semacamnya. Buku nonfiksi lebih kepada penyampaian pengetahuan, pemaparan argumen, pembahasan pada satu topik tertentu.

Antara fiksi dan nonfiksi punya nilai dan perannya masing-masing. Aku mengamini pesan J.S Khairen di atas. Kita tak bisa melulu baca fiksi terus menerus. Atau menafikan bacaan fiksi, inginnya baca nonfiksi saja. Tak bisa. Dua-duanya butuh keseimbangan supaya hati dan pikiran seimbang berjalan seirama berdampingan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kenapa Liburan ke Solo dari Jogja Lebih Seru Naik KRL?
  • Refleksi Hari Santri: Sekali Santri, Tetap Santri
  • Hadiah Manis dari Waktu yang Tepat
  • 5 Fakta Unik Jadi Ibu Rumah Tangga yang Doyan Nulis
  • Millennial Teachers for Gen Z

June 2024
MTWTFSS
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
« May   Jul »

Hallo, I'm Khulaipah. This is my personal blog. I love write everything.

Please enjoy my blog and don't forget to drop your comment~

"Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bandingkan dirimu dengan versi dirimu yang kemarin."

© 2026 Catatan Khulaipah | Powered by Superbs Personal Blog theme