Bacalah minimal dua buku per bulan. Satu buku fiksi, satunya lagi buku nonfiksi. Buku nonfiksi untuk pikiranmu, sementara buku fiksi untuk hatimu.
~ J.S. Khairen
Siapa yang tak kenal J.S. Khairen. Kalau kita pergi ke toko buku yang ada di mal itu, kita akan melihat buku-bukunya nangkring dalam barisan buku best seller. Tak kalah gagahnya berbaris bersamping-sampingan dengan buku-buku Tere Liye. Tak hanya satu buku yang ada dalam barisan rak best seller, namun beberapa buku.
Ya, aku fan fiksi karya penulis ini. Beliau termasuk penulis aktif yang mempromosikan karya-karyanya di media sosial. J.S Khairen memberi pangkat bagi para pembaca bukunya. Agak narsis, sih, menurutku. Tapi, strategi marketing itu ternyata ampuh menarik orang untuk membaca tulisan dan karya-karyanya. Ditambah lagi akun medsos J.S. Khairen mengizinkan kolaborasi pada siapa pun yang mereview bukunya dan atau hadir pada acara-acaranya.
Bulan lalu, kami menghadiri acara jumpa penulis J.S. Khairen di Gramedia Sudirman Yogyakarta. Kukatakan kami, karena kami adalah satu paket keluarga kecil; aku, Yabbi, Ezzat (5 tahun) dan jagoan terkecilku yang masih dalam gendongan (21 bulan). Kami berbaur di tengah para penggemarnya yang lain. Membawa anak-anak menjadi berkah tersendiri.

“Ayo baris, tanda tangannya dari kiri ke kanan. Muter sampai ke belakang. Ngga ada minta foto-foto, ya, kecuali, difoto langsung pas tanda tangan,” jelasnya lantang.
Keluarga macam kami tentu pengecualian. Kami berempat maju minta tanda tangan sekaligus berfoto ria, setelah sebelum adegan itu, Yabbi memenangkan kuis dan mendapatkan buku gratis dari penulis. Nasib baik betul pada kami. Bertambah rasa fanku pada pengarang buku Dompet Ayah Sepatu Ibu itu.
Jumpa penulis kurasa banyak sekali menyimpan hikmah. Saat ditanya bagaimana kok bisa melahirkan berbagai karya yang best seller, ia menjawab, “Kuncinya membaca!” Pesannya pula untuk membaca minimal 2 buku per bulan. Buku nonfiksi untuk pikiran, fiksi untuk keluasan hati.
Buku fiksi dibuat berdasarkan daya imajinasi pengarang berupa khayalan seperti novel, cerpen, fabel, puisi, dan naskah drama. Dalam buku fiksi seringkali kita dapati padu-padan antara dialog, pendeskripsian tempat, dan penggambaran waktu.
Sementara buku nonfiksi, ditulis berdasarkan pengamatan kejadian nyata. Seperti karya ilmiah, esai, artikel, ensiklopedia, surat, dan semacamnya. Buku nonfiksi lebih kepada penyampaian pengetahuan, pemaparan argumen, pembahasan pada satu topik tertentu.
Antara fiksi dan nonfiksi punya nilai dan perannya masing-masing. Aku mengamini pesan J.S Khairen di atas. Kita tak bisa melulu baca fiksi terus menerus. Atau menafikan bacaan fiksi, inginnya baca nonfiksi saja. Tak bisa. Dua-duanya butuh keseimbangan supaya hati dan pikiran seimbang berjalan seirama berdampingan.
