Bagi masyarakat urban seperti kami, mudik menjadi salah satu momen spesial, yang mana momen ini biasa dilakukan satu kali dalam setahun, yaitu menjelang hari Raya Idul Fitri. Meskipun butuh tenaga ekstra dan persiapan finansial yang tidak sedikit, para urban tetap menantikan momen mudik.
Tahun ini kami mudik menjelang lebaran idul Adha. Alasannya sederhana, libur lebaran kali ini berdekatan dengan libur sekolah anak-anak serta libur perkuliahan semester genap. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, mudik butuh kesiapan. Di antara persiapan paling penting ketika mudik bagi seorang ibu rumah tangga yang masih punya batita adalah kesiapan mental.
Begitu pula dengan alat transportasi. Lain alatnya, lain pengalamannya. Sejauh ini, transportasi yang paling memudahkan serta hemat waktu dan tenaga tentunya jalur udara. Hanya saja jika memilih jalur ini, siap-siap biaya ekstra. Anak-anak usia minimal dua tahun sudah dikenai biaya seperti orang dewasa.
Yang paling murah meriah dan ramah di kantong pilihannya jatuh pada bis. Terakhir kami cek kemarin, biaya kami untuk pergi menggunakan pesawat bisa dua kali perjalanan bolak balik via darat. Tentu perbandingan ini ngga apple to apple, ya. Sekali lagi, ini hanya berdasarkan kacamata seorang ibu rumah tangga yang masih menganut aliran mendang-mending.
Btw, mengapa kesiapan mental menjadi penting bagiku?
Aku pernah punya pengalaman buruk tentang naik kendaraan darat. Baru mendengar kata mobil saja, perut melilit rasanya bak diobok-obok. Mungkin sekitar kelas 4 atau 5 SD, saat aku secara sadar merasa bahwa aku mabuk perjalanan. Saat itu, aku diajak pergi mengunjungi salah satu kerabat kami di Baturaja. Baru di depan pintu mobil, aku sudah mabuk darat. Kamu pasti bisa membayangkan, ya, bagaimana kondisi seseorang ketika mengalami mabuk darat.
Sejak pengalaman yang tak menyenangkan itu, aku tak begitu suka naik mobil. Sementara semua mobilitas yang ada rata-rata dicapai menggunakan mobil. Berbagai cara mengatasi mabuk perjalanan kucoba. Dari menelan obat Antimo, menutupi pusar dengan koyo, sampai membawa minyak kayu putih dan obat gosok untuk oles-oles selama dalam perjalanan. Entah kenapa, bis dan mobil akhirnya menjadi momok yang menakutkan.
Namun tahukah, Kamu? Seorang udik yang mabukan ini sudah pernah menginjakkan kaki di negeri Sakura dan pernah tinggal di bumi Kinanah menimba ilmu. Mobil dan bis tidak bisa menghalanginya menjelajah tempat-tempat indah.
Apa yang dilakukannya untuk mengatasi motion sickness?
Pertama, sugesti. Menanamkan ucapan-ucapan positif pada diri dari jauh-jauh hari sebelum melakukan perjalanan; “Aku sehat, aku kuat, aku bisa menaklukkan perjalanan ini dengan bahagia.”
Kedua, persiapan-persiapan yang matang dalam melakukan perjalanan. Semisal, mendaftar barang-barang bawaan, obat-obat, camilan, buku, dan barang-barang penting lainnya.
Ketiga, doa dan tawakkal. Perbanyak doa dalam perjalanan. Rasulullah SAW. pernah bersabda; “Ada tiga doa mustajabah yang tidak disangsikan lagi, yaitu doa orang yang teraniaya, doa orang dalam perjalanan, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Tak lupa serahkan semuanya kepada Sang Mahamenciptakan.[]

