Beberapa hari lalu, aku membaca tulisan J.S Khairen di laman sosial medianya tentang royalti penulis. Katanya, royalti penulis itu hanya 10% dari harga jual buku. Jika buku dijual kisaran harga 80.000 – 120.000 per buku, artinya yang masuk ke dalam kantong penulis hanya 8 – 12 ribu saja. Angka itu digunakan untuk biaya riset yang berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, biaya membuat kerangka berpikir, ngetik berjam-jam, pusing, melamun, revisi. Pun digunakan untuk potong pajak, membuat konten, talkshow, menulis quote, dan semacamnya.

Ke mana perginya yang 90%? Masih dalam uraiannya, bahwa selain digunakan untuk membiayai kertas dan pendistribusian, uang itu juga digunakan untuk gaji editor dan karyawan penerbit, pekerja pabrik percetakan, juga karyawan toko buku yang menjual karya-karya penulis. Belum tentu, buku pertama yang ditulis langsung laku di pasaran. Buku-buku yang tak laris itu kadang dijadikan bubur kertas lagi.
Hei, apa kabar kamu yang menjual dan membeli buku bajakan?
Membaca tulisan J.S. Khairen di atas, aku jadi teringat drama Korea berjudul Romance is A Bonus Book. Serial televisi itu tayang di tahun 2019, dibintangi oleh Lee Jong Suk sebagai Cha Eun Ho dan Lee Na Young sebagai Kang Dan Yi. Serial ini menceritakan perjalanan seorang Cha Eun Ho, sang penulis genius yang kemudian menjadi kepala editor di sebuah penerbitan buku, lalu bertemu Kang Dan Yi, seorang perempuan yang lama hiatus dari pekerjaannya, kemudian memilih kembali bekerja.
Di masa lalu, Cha Eun Ho dan Kang Dan Yi sama-sama saling kenal satu sama lain, bahkan Dan Yi yang membuat Eun Ho memilih jalan sebagai seorang penulis. Nah, sama seperti kisah drama romantis yang lain, drama ini pun menceritakan hal demikian. Beda yang terlalu mencolok dari kesamaan cerita-cerita romantis itu menurutku, ada pada sisi setting tempat berikut seabrek permasalahan tentang dunia publishing.
Drama ini bagus sekali, ia memperlihatkan bagaimana proses adanya sebuah buku sampai naik ke percetakan. Kalau kamu menonton serial drama itu, kutaksir kamu akan lebih bisa menilai harga sebuah buku. Sebentar, jadi ada apa hubungan antara membeli buku bajakan dengan serial drama Korea itu?
Lagi-lagi, J.S. Khairen menyebut pembeli buku bajakan dan pengunduh buku PDF bajakannya dengan maling. Mereka adalah orang yang merebut nasi dari mulut yang terlibat dalam memroses sebuah buku. Dalam drama di atas digambarkan sangat detail persoalan yang banyak muncul. Semisal, adegan bagaimana seorang editor yang salah sedikit saja menulis biografi penulis naskah, dimarahin habis-habisan oleh seniornya karena sangat memengaruhi kredibilitas penerbit, hingga bagaimana sebuah buku yang terbit ribuan eksemplar berakhir menjadi bubur.
Terbitnya sebuah buku tak lepas dari kerja keras semua orang yang terlibat. Ada penulis, editor, layouter, karyawan percetakan, tim publisher. Tak usah berkilah mengatakan memutus mata rezeki orang lain, seperti yang pernah heboh kapan hari dalam sebuah akun komunitas buku di Instagram. Penjual buku bajakan tidak membiayai semua uang yang keluar untuk mengadakan sebuah buku. Yakin, nih, usahanya membawa berkah?
Kalaupun tidak semua pembaca mampu membeli buku orisinal, sekarang sudah banyak sekali opsi untuk tetap membaca. Baik dengan menyewa buku-buku orisinal sehingga biaya lebih waras, menabung buku, ikut giveaway buku, atau dengan membaca online pada laman-laman perpustakaan legal secara gratis.[]

Aku juga baca postingan JS. Khairen itu. Gemes memang, Tapi nyatanya banyak sekali maling buku seperti itu yang seliweran di toko online dan berbagai aplikasi online.
Membeli buku asli sama memberikan kehidupan bagi orang-orang di belakang buku tersebut. Mantap sekali kak tulisannya. Btw drama-nya bagus bet.
sedih ya ternyata, kalau masih ada yg tega nge bajak karya orang, yang mereka sungguh-sungguh bnget dalam karyanya
Jadi ingat sama buku tere liye judulnya selamat tinggal..
takut banget baca buku bacakan, takut ngga berkah. kasihan sama penulisnya juga
Sedikit sekali memang royaltinya, yang pernah nerbitkan buku pasti sudah mengalaminya