“Ning stasiun balapanKuto Solo sing dadi kenanganKowe karo akuNaliko ngeterke lungamu“
~Didik Prasetyo
Sama seperti Yogyakarta, Solo adalah kota kenangan. Dengan sendirinya ia bak magnet yang menarik minat orang untuk datang sekali lagi ke kota ini. Atmosfer kenangan sudah terasa semenjak turun dari kereta yang membawa kami. Sayup-sayup terdengar alunan lagu milik Didi Kempot berjudul Stasiun Balapan.
Hm, kami memilih berbulan madu di kota yang tak jauh-jauh dari tempat kami tinggal. Alasannya tentu karena efisiensi. Lagi pula, Solo tak kurang pesonanya. Sebelum menikah pun, aku lumayan sering main ke sini. Hanya, perjalanan kali ini berbeda. Aku ditemani seseorang yang kini akan mengisi hari-hari.
Kami menumpang Prameks dari stasiun Maguwoharjo. Perjalanan Yogayakarta – Solo ditempuh lebih kurang 1.5 jam. Rute kereta pendek disuguhi pemandangan hijau sepanjang jalan. Sesampainya di stasiun Balapan, kami memesan taksi online bertolak menuju hotel di jalan Slamet Riyadi.
Jalan Slamet Riyadi merupakan salah satu jalan raya utama kota Solo yang sangat terkenal. Konon katanya, jalan ini dulu pernah dinobatkan sebagai jalan terpanjang se-Asia Tenggara. Bank-bank, hotel-hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga destinasi wisata terletak di sepanjang jalan utama itu.
Beberapa destinasi perjalanan sudah kami siapkan jauh-jauh hari sebelum kemari. Kami akan berjalan-jalan ke benteng Vastenburg, Taman Sriwedari, Keraton Surakarta dan wisata kuliner. Tak banyak tempat yang akan kami eksplorasi, mengingat waktu kami menginap hanya sehari semalam.
Lepas check in hotel menjelang sore, kami mulai berjelajah berjalan kaki ke benteng Vastenburg. Sekilas nama bentengnya terdengar mirip dengan benteng yang ada di Jogja, Vredeburg. Aku belum ngecek sejarahnya lebih dalam, adakah hubungan yang kuat antara dua benteng ini atau tidak. Yang pasti, antara Yogyakarta dan Solo punya banyak kemiripan, baik dari segi tata letak lokasi, peninggalan sejarah, corak bangunan-bangunan lama, serta budayanya.
Menyusuri jalan Slamet Riyadi berdua dengan pujaan hati berasa romantis sekali. Kota Solo lumayan ramah untuk para pejalan kaki. Trotoar terhampar rapi bin lebar di pinggiran jalan raya. Toko-toko berjejer memuat barang-barang yang dijual. Kami berjalan melewati Tugu Pemandengan dan gedung bank Indonesia. Sementara di atas sana terlihat langit bertutup mendung sebagai isyarat akan turunnya hujan yang semakin menambah cerita keromantisan dua insan.
Beruntungnya kami bersedia payung sebelum kehujanan. Dari waktu ke waktu hujan kian lebat. Para pejalan kaki sudah tidak terlihat lagi. Hanya kendaraan roda dua dan roda empat hilir mudik berlalu lalang. Kami menepi berteduh di bawah pohon besar, berlindung dari derasnya hujan.
Melihat air-air yang turun, menegadah ke langit yang pekat karena hujan, semakin menambah rasa takjub akan kebesaran Sang Maha. Dia yang Mahamampu untuk menciptakan segala keharmonisan, membuat diri ini tak henti-hentinya takjub mengucap Ma Syaa Allah. Begitu besar Sang Mahapencipta mengatur segala sesuatu, baik yang tersirat maupun tersurat. Terbersit dalam hati, jika sudah begini besar nikmat yang diberikannya kepada diri ini, maka mengapa lagi kami manusia mau sombong dan berdusta? []
