“Ya ampun, Yuk. Masih TK ini bae, dikasih duit jajan 5.000 tiap hari. Dibanding kawannyo, jajannyo ini masih paling kecik,” cerita Adikku.
“Emang berapo kawan-kawannyo yang lain dikasih duit jajan?” Tanyaku penasaran.
“Ado bae yang dikasih wong tuonyo 10.000 per hari. Kesian Bunda kalo dio dak megang duit tu, olenyo kawan-kawannyo megang duit galo. Tapi ringam aku nih, tiap hari bejajan. Duit tu belum pulo terti padahal. Dah lah, budaya tadi cak itu,” Adikku meleterkan panjang lebar.
Aku bingung menanggapi. Usia anakku sama dengan usia keponakanku yang tadi diceritakan. Mereka sama-sama duduk di bangku TK A. Selama ini, anakku belum pernah membawa uang khusus jajan ke sekolah. Peraturan di sekolah mereka, anak-anak membawa bekal dari rumah. Bunda di sekolah menghimbau untuk tidak membawa plastik sampah ke sekolah, sehingga anak-anak terbiasa membawa bekal mereka di dalam kotak makan.
Beda pula budaya jam istirahat di sekolah keponakanku tadi. Begitu lonceng istirahat, anak-anak berhamburan keluar menyerbu tempat jajan. Penjual makanan dan mainan berjejer di pinggiran pagar sekolah. Seperti ritual, anak-anak jajan setiap hari. Meskipun uang jajan tak habis dibelanjakan, namun kegiatan jajan itu terus menerus berulang.
Aku jadi teringat buku yang pernah kubaca. Salah satu pembahasan di dalam buku berjudul 7 Kiat Orang Tua Shalih karya Abah Ihsan mengangkat tema uang saku. Aku pernah mencatat beberapa poin penting penjelasan-penjelasan itu. Semoga tulisan ini sedikit bisa menjadi wawasan dan referensi tambahan bagi para orang tua.
Konsep uang saku tidak sama dengan uang jajan
Konsep pertama yang kutemui yaitu definisi uang saku yang tidak sama dengan uang jajan. Abah Ihsan membedakan keduanya. Beliau bilang kalau uang saku itu terencana, sementara uang jajan spontan. Besaran uang jajan belum ditentukan, sedangkan uang saku sudah ditentukan. Kemudian otoritas mengatur uang saku ada pada anak.
Tanggung jawab mengelola pengeluaran
Pengenalan terhadap uang akan melatih anak untuk belajar memikul tanggung jawab dan mengelola pengeluaran. Anak-anak akan belajar membelanjakan uang yang sudah dipercayakan untuknya. Lalu apa indikator keberhasilan penerapan uang saku pada anak? Ketika anak-anak tidak lagi sembarangan menggunakan uangnya. Dalam bentuk yang lebih konkret, manakala sampai batas waktu yang sudah ditentukan, uang yang dikelola anak masih tersisa.
Penerapan SOP tiap anak berbeda
Tentu cara kerja SOP uang saku di tiap anak-anak berbeda. Usia anak memengaruhi kecakapan anak memilah mana kebutuhan mana keinginan. Tak usah merasa insecure kalau dalam masa percobaan pertama anak belum berhasil. Tiap anak butuh waktu yang berbeda. Anak-anak akan belajar dari kesalahan mereka, sementara orang tua belajar bersikap tegas dan tega.
Dalam bukunya, Abah Ihsan menyebut usia minimum mengajari anak tentang uang saku adalah saat mereka berumur tujuh tahun. Pada fase itu, anak-anak mulai memiliki konsep berpikir semi-abstrak. Anak-anak mulai belajar memahami nilai dengan lebih baik. Di usia itu juga, Rasulullah mengajak para orang tua untuk mulai mengajari anak shalat.
Keterampilan belanja
Yang dimaksudkan adalah keterampilan mengendalikan pengeluaran. Menerapkan uang saku berarti membantu anak untuk berlatih mengendalikan keinginan-keinginan, berlatih memilah apa yang lebih dibutuhkan daripada hanya untuk bersenang-senang. Para orang tua seyogyanya bisa menerapkan SOP uang saku dengan caranya tergantung seberapa kebutuhan dan keperluannya. Tentu dengan melihat kondisi keuangan keluarga. Uang saku bisa diberikan per bulan atau per minggu.
Demikian, semoga beberapa catatan kecil ini membantumu.


Konsep uang saku yang diterapkan dengan benar akan berpengaruh pada pengelolaan uang anak saat dewasa. Terima kasih ilmunya, Kak. Sukaaaa
Betul banget, Kak. Bagaimana cara mengelola uang yang baik harus diajarkan sejak dini, ya.
Ah jadi inget dulu sejak SMP aku sudah diberikan uang saku per Minggu oleh bapak. Harus cukup … Aku jadi mulai belajar mengatur keuangan sendiri. Sangat bagus buat anak-anak. Begitu juga sekarang kuterapkan pada anak-anak.
Keren, Kak. Sudah diterapkan ke anak-anak pula.
aku kira selama ini uang saku itu uang jajan loh, oalah ternyata beda. mkasih mba udah share
Lha iya, dulu saya juga gitu.
Keren pembahasannya membuka pikiran banget..
Makasih kak ilmunya…
Sama-sama, Mbaa.. semiga bermanfaat
Makasih banyak kak, sangat bermanfaat sekali. Jadi ingat jaman sekolah diberi jatah uang saku perminggu.
Sama-sama, Kak. Dulu saya belum bisa ngebedain uang saku dan uang jajan. Hehe.. dikasihnya per hari dengan nominal yang ditentukan udah.
Semangat selalu nulisnya kak, semoga selalu bermanfaat disetiap tulisan-tulisannya