Sudah dua minggu berlalu. Aku masih usaha memasukkan lamaran kerja di sana-sini. Menyebar CV lewat sebuah aplikasi online bagi perusahaan yang membuka pelayanan via daring. Pun berjalan kaki menggedor pintu dari satu kantor ke kantor lain.
Bermodal pengalaman kerja yang kumiliki sebelumnya, aku yakin satu tempat di negara ini akan menerima. Ada rasa khawatir tentang rezeki dan kehidupan mendatang. Namun, bukankah semua rezeki dan takdir sudah ditentukan? Kewajiban kita sebagai manusia saja yang harus berusaha semaksimal mungkin.
Gawai di saku celanaku bergetar. Kubuka notifikasi, sebuah email baru saja masuk.
Dear Sir/Madam,
Firstly thank you for attending the Recruitment Drive for Craftzania.
We would like to inform you that you have pass the interview with Craftzania and they would like to consider to employ you at its establishment in consider with the opening positions available.
Detail about your positions and salary offered will be informed with Formal letter from Craftzania within the next couple of weeks.
For any inquiries please contact Miss. Moona at +9733370xxxx.
Regards,
Muneeb.
Tak henti aku mengucap syukur. Meskipun tak tahu hasil akhirnya akan lolos atau tidak, wawancara kerja adalah satu jalan lebih dekat menuju kesuksesan. Segera kukabari calon istriku untuk memberikan kabar baik.
***
Suatu kali, pernah aku terbersit dalam pikiran kalau sampai di hari akad aku belum juga punya pekerjaan.
“Gimana kalau sampai menikah, aku belum juga dapat pekerjaan?”
“Ya, ngga gimana-gimana. Yakin, In Sha Allah akan Allah mudahkan. Rezeki sudah diatur kadar dan ketentuannya. Kita hanya berusaha menggali di mana turunnya dengan kemampuan yang dititipkan pada kita.”
“Kamu yakin?” Aku masih meragukan.
“Usaha, doa dan tawakal itu adalah satu kesatuan. Sekali lagi mari kita usaha dalam batas kemampuan, terus berdoa meminta yang terbaik menurut-Nya. Setelahnya kita tawakal akan hasil yang diberikan. Apa pun keputusan-Nya kita terima dengan lapang dada. Yakin, Allah sudah mengatur semua apa yang ada di langit dan bumi. Kita kencangkan saja doa. Kita bulatkan lagi niat dan tekad. In Sha Allah semua dimudahkan.”
***
Setelah wawancara itu, aku diminta menanti hasil yang akan dikirimkan melalui email. Dari wawancaranya, orang yang mewawancarai terlihat welcome sekali. Selesai wawancara pun, aku diajak berkeliling kantor. Dikenalkan dengan beberapa staf dari beberapa divisi. Ditunjukkan cara kerja seorang administrator yang cakap. Bahkan diperlihatkan pula sebuah kubikel tempat bekerja.
Sebuah kantor bernama Craftzania mengurusi beberapa playground anak-anak. Aku baru tahu ternyata playground yang tidak terlalu besar saja punya banyak sekali urusan administrasinya. Apalagi yang sudah banyak cabang di mana-mana.
Sejauh apa yang kuusahakan ini baik dan halal, apapun akan kulakukan. “Semoga pertanda bagus,” harapku. []

