Penerjamahan Al-Qur’an selalu menjadi persoalan yang problematis dan sulit dalam teologi Islam, karena Muslim sangat menghormati Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ajaib dan tak dapat ditiru (i’jaz Al-Qur’an). Al-Qur’an adalah wahyu Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. berbahasa Arab. Masalahnya muncul saat tidak semua orang memahami bahasa Arab. Maka, Al-Qur’an yang universal diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Terjemah Al-Qur’an awal
Kegiatan menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris mulanya tidak dilakukan oleh umat Muslim, tetapi oleh umat Kristen yang berupaya menghilangkan prasangka Islam dan membantu perpindahan umat Islam ke agama Kristen. Adalah Alexander Ross, pendeta Charles I (memerintah 1625-49), orang pertama yang memulai proses penerjemahan Al-Qur’an dari bahasa Prancis. Menariknya, Ross tidak bisa berbahasa Arab dan hanya mengandalkan terjemahan sekunder dari bahasa Prancis, bahasa yang tidak ia kuasai dengan baik.
Tahun 1734, George Sale menghasilkan terjemahan pertama Al-Qur’an langsung dari bahasa Arab ke bahasa Inggris. Namun dalam terjemahannya masih mencerminkan pendirian misionarisnya. Middle East Forum menyebutkan dalam kajian mereka bahwa kebanyakan terjemahan abad kedelapan belas dan kesembilan belas dilakukan oleh penulis yang tidak memiliki latar belakang Islam yang kuat.
Muslim India lah yang pertama kali menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan Al-Qur’an dilakukan oleh Dr. Mirza Abul Fazl, asal Bangladesh, pada tahun 1910. Ia menyajikan terjemahan dalam bahasa Inggris beserta teks Al-Qur’an asli. Dengan meningkatnya populasi Muslim berbahasa Inggris pada awal abad ke-20, terjemahan-terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris kian beragam.
Beberapa terjemah Al-Quran dalam bahasa Inggris yang popular, diantaranya sebagai berikut:
The Holy Quran, English Translation and Commentary by Muhammad Ali

The Meaning of the Glorious Koran by Marmaduke Pickthall

Sadar bahwa karya yang dihasilkan banyak anotasi akan mengurangi fokus pada teks sebenarnya, Pickthall memberikan sedikit catatan penjelasan dan mencoba membiarkan teks tersebut berbicara sendiri. Meskipun demikian, usahanya menerjemahkan Al-Qur’an tetap dipengaruhi oleh Muhammad ‘Ali, yang dia temui di London.
The Holy Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali
Di antara terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang disukai Saudi dan karenanya menjadi tersebar luas, adalah terjemahan Abdullah Yusuf ‘Ali yang pertama kali muncul pada tahun 1934. Terjemahan ini telah dicetak lebih dari 30 kali oleh beberapa penerbit yang berbeda. Karyanya ini pun merupakan salah satu terjemahan paling popular di kalangan Muslim berbahasa Inggris.

Pada tahun 1989, perusahaan perbankan Ar-Rajhi Arab Saudi mendanai proyek Amana Corporation yang berbasis di AS untuk merevisi terjemahan agar lebih mencerminkan interpretasi sejalan dengan garis pemikiran Islam yang dianut di Arab Saudi. Ar-Rajhi menawarkan versi yang dihasilkan secara gratis ke masjid, sekolah, dan perpustakaan di seluruh dunia.
Komentar yang tercantum dalam catatan kaki mengenai orang-orang Yahudi masih sangat mengerikan. Sehingga pada bulan April 2002, distrik di Los Angeles melarang penggunaannya di sekolah-sekolah lokal. Meskipun terjemahan Yusuf Ali masih tetap diterbitkan, pengaruhnya telah hilang karena bahasanya kuno, serta munculnya karya-karya baru, yang penerbitan dan distribusinya juga disubsidi oleh pemerintah Saudi.
The Noble Qur’an in the English Language by Muhammad Taqi al-Din al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan
Kini, Al-Qur’an yang paling banyak disebarluaskan di sebagian besar toko buku Islam dan masjid Sunni di seluruh dunia berbahasa Inggris adalah terjemahan karya Hilali dan Muhsin Khan. Terjemahan baru ini dimaksudkan untuk menggantikan edisi Yusuf Ali, yang dilengkapi dengan stempel persetujuan dari Universitas Madinah. dan Saudi Dar al-Ifta.

Kesimpulan
Ada banyak terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris, tak satu pun yang berhasil setara dengan Al-Quran. Terjemahan adalah upaya manusia untuk memahami maksud-maksud yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
Habib Quraish Shihab mengutip dari Abdullah Darraz pada pengantarnya dalam buku berjudul Membumikan Alquran:
“Apabila Anda membaca Alquran, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi bila Anda membacanya sekali lagi, akan Anda temukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna-makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda (dapat) menemukan kalimat atau kata yang mempunyai arti yang bermacam-macam, semuanya benar atau mungkin benar.”
So, mari jadikan terjemahan Al-Qur’an sebagai wahana untuk memahami pesan-pesan indah Al-Qur’an. Jangan berhenti pada satu karya terjemah. Ia pun seperti tafsir Al-Qur’an yang punya banyak coraknya. Namun yang paling penting dari semuanya adalah untuk tidak berhenti belajar dan bertadabbur. Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.
Tabi‘, Khulaipah Arroudho.

Wah, baru tahu ada yang disponsori oleh Saudi Arabia
waw, masyaallah sekali. dan baru tau juga ternyata beda-beda
Wah , jadi tahu deh. Terima kasih penjelasannya kak
Waah, keren bangeeed. Di rumah juga ada kak