Pagi itu, aku merenungi diri. Di umurku yang beranjak kian dewasa, aku memikirkan jodohku yang belum kunjung sua. “Serahkan saja semuanya kepada Yang Maha Menentukan,” ucapku menghibur diri. Ah, daripada mengkhayal tak berkesudahan, aku beranjak menghapus angan.
Aku pergi ke warung Bi Ijah belanja sayur-mayur persediaan makan selama tiga hari ke depan. Stok sayuran dan daging segar tak bisa banyak-banyak. Maklum, di kost kami belum ada kulkas. Daging segar saja harus segera diolah biar tak mubazir.
“Sore nanti kita bikin risol, ya, Han. Pengen banget nih,” ajakku pada Hanik, teman kosku.
“Siap, Mba. Aku bagian cicip-cicip aja,” jawabnya sambil sumringah. Dalam hatinya ia mengucap tumben. Biasanya kalau pengen risol tinggal beli yang sudah jadi. Ini kenapa repot-repot mau bikin?

Petang nan syahdu. Risol yang tadi kubuat sudah jadi. Kami berkumpul makan di kamarku berceloteh sana sini, menggosip berita terkini, serta berkhayal tentang masa depan. Tak lupa pastinya, jepretan momen kebersamaan untuk menjadi kenang-kenangan.
Kuposting risol di feed instagram.

“Astaga, ngiler, Yuk,” tulis seseorang di kolom komentar.
Kuingat nama itu. Kami pernah bertemu di rumah limas, Kairo. Saat itu acara halal bihalal idul adha dan ramah tamah. Aku hanya bertemu dengannya sebentar karena hampir jam tutup asrama. Pertemuan yang sangat singkat itu tak cukup menjelaskan siapa kami. Aku tak ingat persis raut muka dan warna bajunya. Yang kuingat hanya celana merah yang dikenakan.
“Di Bahrain tak naro, apo, Dik? Muat sorang, ai. Bekreasi pulo..,” balasku.
Sebagai perantau nan jauh dari kampung halaman, makanan tradisional sangat dirindukan. Di rantau, harga makanan Indonesia melangit. Untuk menyantap tempe saja, harus rela merogoh kocek hingga puluhan ribu rupiah. Belum lagi kalau merindukan lauk pauk yang lain, siap-siap saja uang bulanan terkuras habis. Begitulah, masakan murah di negeri sendiri akan menjadi makanan mewah di tanah rantau.
Satu dua komentar setelahnya berlanjut. Hingga akhirnya, seorang ini meminta nomor WA.
“Bismillah, setelah aku baco CV Ayuk, aku niat untuk mengajukan diri. Semoga Ayuk berkenan,” sebuah pesan masuk.
What?
Secepat itu keputusannya. Beberapa waktu lalu kami bertukar CV Ta’aruf. CV Ta’aruf berisi tentang informasi data diri. Informasi yang mencakup keterangan fisik, kepribadian, keluarga, riwayat pendidikan, pekerjaan, gambaran visi misi hidup, aktivitas sehari-hari, kriteria pasangan, sampai makanan minuman yang disukai.
Hatiku bergeming, tak bisa meraba rasa. Kubaca lagi baris kalimat itu. Ia memanggilku Ayuk, aku memang kakak tingkatnya di dalam pendidikan, tapi umur kami sama.
“Aku dak biso mutuske sekarang. Aku butuh istikharah. Entah jawaban itu kutemuke langsung atau melalui restunyo wong tuo, kasih aku waktu. Gek kukabari lagi,” balasku.
“Baik, Yuk. Semoga jawabannya yang terbaik,” ia tutup percakapan kami hari itu.
Tak henti kurapalkan doa meminta petunjuk; apakah ini saatnya untuk menempuh kehidupan baru? Saat aku dengannya akan menjadi kita. Saat aku tidak bisa lagi mengedepankan hak-hakku sendiri, tapi ada kewajiban lain yang harus dipenuhi. Aku terus berdoa, ‘Ya Allah, mohon berikan petunjuk-Mu. Jika dia jodohku, permudahkan. Jika dia tidak baik untukku, pisahkan kami dengan cara baik menurut-Mu.’

1 thought on “Risol Pembawa Jodoh”