“Masa depan kita sangat ditentukan oleh kebiasaan kita saat ini. Siapa kita saat ini adalah hasil pilihan kita di masa lalu, dan siapa kita di masa depan adalah hasil pilihan kita di masa kini.”
Pernahkah kamu bertemu dengan kutipan kalimat di atas? Dalam buku-buku motivasi yang kubaca, banyak sekali kutemui petikan kalimat-kalimat tersebut. Meskipun dengan redaksi berbeda, maksud dari pesan yang hendak disampaikan sama; kita hari ini adalah bentukan dari kita di masa lampau. Artinya, untuk membentuk kita seperti apa yang kita inginkan di masa depan, mulailah dari hari ini.

Aku agak tergelitik hati membaca kata pengantar Tjahjo Harry Wilopo di dalam bukunya berjudul Habit is Power. Saat beliau mengajukan pertanyaan, “Apa yang sudah Anda lakukan setiap hari untuk mengejar impian itu?” Ya, terkadang kita hanya bermimpi ingin mencapai suatu tujuan tertentu dan tanpa disadari kita belum mulai melakukan apa-apa.
Padahal, bukankah hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan melahirkan suatu hal yang lebih besar? Aku ingin menulis bukan tanpa alasan. Tulisan akan abadi walaupun umur kita berhenti. Karenanya, aku ingin memperkenalkan diriku kepada dunia dengan berbagi buah pikiran. Sebagai pemain pemula dalam dunia blogging, aku berusaha bagaimana supaya setiap hari mengunggah tulisan.
Niatku sudah bulat betul. Tak heran jika kali pertama mulai, aku sangat disiplin diri. Tapi apakah yakin esok atau lusa aku punya semangat yang sama? Di sinilah aku membutuhkan doa sakti mandraguna, yaitu doa memaksakan diri berbunyi, Allahumma paksakeun…
Paksakan diri untuk membangun kebiasaan baru dan meninggalkan kebiasaan lama. Tentu di dalam prosesnya, aku akan jenuh, jemu dan bosan di tengah ikhtiar membentuk habit baru. Tak apa, manusia memang begitu adanya. Karena itu pula, aku bergabung dengan komunitas. Kata Bu Lira di dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas, jadilah anjing penjaga mimpi satu sama lain. Komunitas menjadikan kita stabil dalam menggapai mimpi.
Keterpaksaan akan berubah menjadi biasa. Di sini menarik. Aristoteles pernah berkata, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Kesempurnaan bukanlah sebuah aksi, melainkan kebiasaan.” Siapa pun yang kita temui ahli hari ini, tentu dia sudah melakukan keahliannya berulang kali di masa lalu. Daebak! Betapa kebiasaan menjadi kekuatan yang mengantarkan seseorang pada mimpinya.
Akhirnya, aku bisa menarik kesimpulan; menjadi ahli dalam dunia menulis dan blogging. Hal yang harus segera kulakukan adalah memulai serta membiasakannya tiap hari. Jika patuh pada hukum 10.000 jam terbang, maka dalam kurun waktu 4 tahun sudah menjadi ahli, dengan asumsi latihan menulis perhari selama 8 jam. 8 jam x 30 hari = 240 jam. Dalam setahun, 240 jam x 12 bulan = 2.880 jam. 4 tahun x 2.880 jam = 11.520 jam. Yes, sudah melebihi jam terbang.
Kini, big why dan rencana sudah tersusun rapi. Mari saatnya kita eksekusi!
Tabi’ Khulaipah Arroudho.

Mantap sekali kak. Menulis meninggalkan kenangan walaupun yang menciptakan sudah tiada. Pokoknya semangat menulis ya kak!
Semangat untuk kita semua ya! 🙂
Mantap kak, terimakasih banyak sudah berbagi..
Kembali kasih, Akak. 🙂
Nasehat yang pas untuk hari ini. Terima kasih karena sudah berbagi tulisan yang bermanfaat, Kak. Semangat 🙂
Kembali Kasih, Abu Sa’ad. ^_
masyaallah kak, matang sekali perhitungannya. tinggal istiqomah terus menulisnya. insyaalah tetap semangat mba
Amiiin. Semangat juga, Mba Marisa. Sampai betul-betul jadi penulis sejati.
Wow, perencanaannya matang banget, Kak
Itu idealnya, Budoseen. Ngga tau nanti kita liat 😀
Doa yang kayak gitu sering diajarin sama abah di pondok..
Allahumma paksaen..
Btw, blognya keren kak, baca tuh berasa adem liatnya, perpaduan warna temanya yang cocok banget jadi bacanya juga nyaman…
Ah, Terima Kasih, Akak. Saya newbie banget, putih adalah aman. Haha
Setuju banget kak … Memang harus memaksakan diri agar terbiasa. Gak boleh mageran.
Iya betul, Kak. Kalau sudah berulang-ulang dilakukan biasanya tanpa sadar bisa sendiri
Judulnya hampir mirip dengan yang saya tulis kak hehe, semangat kak
Iya e, pas saya cek ternyata mirip-mirip. Sehati kita, Mba.