Be so good that people google about you and your work. Be so good that people cant ignore you. Be so good that your reputation precedes where you live and who you know.
~Fellexandro Ruby
Kutipan di atas kutandai betul. Mbak Ji, penyampai materi kali itu sekaligus ketua komunitas ODOP periode ini memaparkan personal branding dengan begitu elegan. Kutuliskan resumenya ini sebagai pengikat ilmu dari materi yang telah disampaikan. Bagi kalian yang membacanya semoga memperkaya khazanah pemahaman dan pengetahuan.

lainnya. Sederhananya, personal branding seperti aura dalam diri kita. Orang akan melihat aura tersebut dan mempersepsikan tentang diri kita dalam benak mereka.
Menurut Mbak Ji, personal branding adalah membangun reputasi dengan memamerkan karya dan skill yang kita miliki, no gap, dan butuh track record yang baik. Sedangkan pencitraan adalah melakukan apa saja yang penting ‘publik’ suka dan tidak berdasarkan kompetensi yang kita miliki.
Bagaimana cara membangun personal branding yang bagus?
Untuk membangun personal branding yang bagus, kita perlu membangun karakter diri kita lebih dulu serta mengusahakan orang lain tahu karakter diri kita. Karakter berkaitan erat dengan aktivitas yang kita lakukan sehari-hari.
Di era teknologi yang canggih ini, kita akan semakin butuh untuk meninggalkan jejak digital dalam membangun branding diri. Katanya Mbak Ji, personal branding itu bukan pencitraan semata, bukan pula flexing gak ada isinya. Personal branding adalah orang-orang dengan mentalitas, “Saya berbagi pengalaman, ilmu, dan pemikiran personal yang bermanfaat bagi orang lain, dengan menggunakan media yang cocok untuk dampak yang baik.”
Mari mulai dari kelebihan yang kita miliki. Tuliskan kelebihan-kelebihan itu dan fokuskan untuk mendalaminya hingga menjadi ahli. Jika belum tahu apa yang menjadi kelebihan dari diri kita, bisa berangkat dari apa yang kita gemari, yang bisa membedakan kita dengan orang lain.
Membuat berbeda dari yang lain sekaligus mencari ciri khas diri sendiri bukan perkara satu dua hari jadi. Galilah lebih dalam dan matang, buatlah lebih spesifik akan dikenal orang seperti apa. Misalnya, jika ingin dikenal sebagai penulis, mau penulis yang bagaimana? Penulis novel kah? Penulis cerpen? Atau penulis buku non fiksi?
Nah, setelah menetapkan keinginan apa yang ingin kita ciptakan untuk dikenal orang, langkah selanjutnya adalah mengembangkan personal branding. Membangun personal branding harus otentik, relevan dan konsisten. Ia berangkat dari talk the walk. Yaitu, berani melakukan apa yang dikhutbahkan alias melakukan lebih dulu sebelum bersuara.
Tentang talk the walk, aku jadi teringat ayat-ayat Al-Quran yang mengangkat spirit yang sama. Dalam QS. Ash-Shaf: 2-3, Allah berfirman:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ * كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Nilai plus mengasah dan mengembangkan potensi diri
Membangun personal branding harus bertarget waktu. Selain itu, wajib juga menuliskan goal dan mempunyai ambisi. Pengorbanan pun tak kalah pentingnya. Pengorbanan ibarat investasi untuk melangkah lebih jauh. Investasi bisa berupa waktu, energi dan biaya.
Di akhir materi, closing statement Mbak Ji makin bikin diri terpukau. Mbak Ji mengutip hasil penelitian dari Malcolm Gladwell, yang berkesimpulan bahwa orang sukses minimal telah melakukan, mencoba, berlatih selama minimal 10.000 jam. Ambisiku untuk mematuhi hukum sepuluh ribu jam terbang itu pernah kutulis lebih awal di sini.

Makasih, Mbak. Sudah dibuatkan rangkumannya.
Ada usaha … Ada hasil , begitu kira-kira yang kita lakukan. Personal branding tidak dilakukan dengan santai-santai ternyata. Butuh effort segitunya, bahkan sampai 10.000 jam berlatih.
Kalau lupa materinya bisa mampir ke blog kakak nih.. Hehe
Personal branding selalu bermanfaat bagi mereka yang memerlukan hal tersebut